Oleh: Muhardi Juliansyah, Leonardo Alexandro & Irsya Lindy Afifa (Peneliti SIAR)
Kondisi kebakaran hutan dan lahan (KARHUTLA) di Kalimantan telah berubah menjadi krisis kemanusiaan yang memicu kasus penyakit pernapasan akut, merenggut kesehatan jutaan orang, dan menunjukkan betapa rapuhnya sistem perlindungan lingkungan di Indonesia. Kebakaran ini tidak hanya mengancam kehidupan masyarakat setempat tetapi juga memberikan dampak pada kehidupan bangsa dan negara (Wibowo, 2019). Kurang lebih 3 bulan telah melanda sebagian besar pulau Kalimantan, hal ini terus berulang dan menjadi sebuah siklus tahunan. Hal ini menyebabkan dampak negatif yang signifikan bagi masyarakat setempat dan lingkungan, serta memberikan dampak yang besar pada kehidupan sosial, ekonomi, dan kesehatan masyarakat di sekitarnya (Rosit et al., 2023).
Provinsi Kalimantan Barat termasuk salah satu daerah dengan frekuensi karhutla tertinggi. Karhutla di wilayah ini disebabkan oleh gabungan antara dua faktor, yakni faktor alami dan aktivitas manusia (Cassandra, 2022). Faktor alami disebabkan fenomena iklim global El Nino, memicu kekeringan panjang yang mengakibatkan vegetasi menjadi kering dan mudah terbakar (Agustiar et al., 2020). Sementara itu, aktivitas manusia terutama pembukaan lahan dengan metode pembakaran, turut memperparah risiko kebakaran, khususnya di wilayah hutan dan lahan gambut yang rentan terhadap api (Sheebakayla, 2024).
Analisis SIAR (2026) mengungkapkan setidaknya 3.741 titik hotspot terjadi di Kalimantan Barat sejak 01 Januari hingga 31 Agustus 2026 dengan tingkat kepercayaan diatas 80%. Titik api tersebut tersebar di 13 Kabupaten/Kota dengan sumbangan hotspot terbanyak di Kabupaten Ketapang, Melawi dan Kubu Raya.
| Kabupaten/Kota | Jumlah Hotspot/Titik Api |
| Bengkayang | 23 |
| Kapuas Hulu | 153 |
| Kayong Utara | 259 |
| Ketapang | 1691 |
| Singkawang | 10 |
| Kubu Raya | 403 |
| Landak | 91 |
| Melawi | 415 |
| Mempawah | 38 |
| Sambas | 16 |
| Sanggau | 216 |
| Sekadau | 189 |
| Sintang | 237 |
| Total | 3741 |
Sumber: Hotspot NASA FIRMS (NRT) rentang 01 Januari – 31 Agustus 2026
Sedangkan periode waktu terjadinya karhutla dimulai pada Mei 2026 dengan 5 hotspot, Juni 23 hotspot, Juli 224 hotspot dan Agustus dengan 3489 titik api. Melonjaknya titik api pada rentang Juli dan Agustus disebabkan karena puncak musim kemarau, selain itu adanya fenomena el nino godzilla/cuaca panas ekstrem ditambah aktivitas manusia yang membuka lahan dengan cara dibakar.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menjelaskan periode 1 Januari sampai 27 Juli 2026 setidaknya terdapat 17.236 titik panas/hotspot berada di Kalimantan Barat dengan luas indikatif karhutla mencapai 28.680 hektar, yang menempatkannya sebagai posisi pertama penyumbang terbesar secara nasional. Angka ini secara signifikan melampaui luas lahan terbakar di Kalbar sepanjang 2024 seluas 24.154,63 hektar dan tahun 2025 seluas 26.702 hektar. Analisis spasial Walhi menunjukkan, 25.524 hotspot atau 74 persen dari total titik panas di seluruh Pulau Kalimantan berada di kawasan konsesi perusahaan.
Sebanyak 10.739 titik berada di hak guna Usaha perkebunan kelapa sawit, 7.880 titik di konsesi pertambangan, dan 6.905 titik di kawasan perizinan berusaha pemanfaatan hutan. Sekitar 7.000 ha dari luas terbakar Kalbar 2026 berada di kawasan hidrologis gambut yang fungsi ekologisnya menurun akibat kanal dan alih fungsi. Hal lain diungkapkan oleh BNPB per 31 Agustus melaporkan dalam 24 jam hotspot Kalbar bertambah 3.553 menjadi 7.377 dan fire spot terverifikasi 72 titik dengan jarak pandang <1 km (CNN Indonesia, 31-08-2026).
Sumber: Peta Administrasi Provinsi Kalimantan Barat
Dengan mengetahui sebaran lokasi dan penyebab karhutla menjadi langkah awal yang penting dalam upaya mitigasi karhutla (Nur Aulia, 2020). Pemetaan area rawan kebakaran menggunakan data geospasial dan non-spasial dapat membantu dalam mengidentifikasi wilayah dengan risiko tinggi dan mendukung tindakan preventif (Anggraini & Agustian, 2021).
https://siar.or.id/wp-content/uploads/2026/09/Peta-administrasi-kabupaten-kota-kalbar.jpg-scaled.jpeg
