Oleh: Muhardi Juliansyah
Kalian Masih Bisa Menunda Kebutuhan, Tapi Bernapas? Tidak Bisa
Ini bukan slogan promosi. Itu adalah haru seorang ibu dari Kalimantan Barat yang dengan putus asa bertanya kepada pemerintah kenapa anaknya harus belajar di rumah tertutup dengan masker setiap hari, kenapa ibunya yang lansia kesulitan bernapas di rumahnya sendiri, dan kenapa udara segar yang notabene sesuatu yang seharusnya gratis untuk semua berubah menjadi barang mewah yang tidak bisa dijangkau. Mereka sedang mengalami bencana kesehatan yang tidak terlihat, yang hadir dalam bentuk asap putih tebal yang menghalangi sinar matahari pada siang hari.
Kondisi kebakaran hutan dan lahan (KARHUTLA) di Kalimantan telah berubah menjadi krisis kemanusiaan yang memicu kasus penyakit pernapasan akut, merenggut kesehatan masyarakat, dan menunjukkan betapa rapuhnya sistem perlindungan lingkungan di Indonesia.
Data Kementerian Kehutanan menunjukkan penurunan yang mengesankan, luas karhutla di Indonesia turun dari 2,6 juta hektar pada 2015 menjadi hanya 24.154 hektar pada 2024. Itu adalah penurunan 74 persen dalam satu dekade. Bahkan, Kalimantan Barat dikatakan telah mencapai penurunan 84 persen sejak 2019, angka yang membuat siapa saja berpikir masalah sudah terselesaikan. Tapi tunggu, data terbaru dari September 2026 membawa berita yang sepenuhnya berbeda.
Pemantauan satelit NASA terkini, jumlah hotspot (titik panas) berkepercayaan tinggi di Kalimantan telah melonjak drastis. Hanya dalam sebulan (Agustus hingga September 2026) Kalimantan Barat mencatat 455 titik panas, sementara Kalimantan Tengah mengikuti dengan 308 titik panas. Data Kementerian Kehutanan menunjukkan kondisi jarak pandang di Bandara Supadio Pontianak turun menjadi sekitar 4 kilometer dalam kondisi berasap. Penurunan luas terbakar tidak selalu berarti penurunan risiko. Penurunan kuantitas bisa berarti peningkatan intensitas api yang lebih besar dan luas, lebih sulit dipadamkan, dan melepaskan asap yang lebih pekat.
Kebakaran kembali menjadi mimpi buruk. 2 bulan lebih melanda sebagian besar pulau Kalimantan, terus berulang dalam siklus ini yang mayoritas menyasar lahan gambut.
Perlu diketahui bahwa gambut sangat berbahaya ketika terbakar api, hal ini dapat menjalar hingga ke lapisan bawah tanah. Tidak peduli seberapa keras air ataupun tepung menyiram permukaan, api di bawah akan terus membakar. Itulah mengapa kebakaran di lahan gambut bisa berlangsung berbulan-bulan, bahkan dalam kondisi hujan sekalipun.
Di lain hal, Kalimantan menjadi salah satu pusat perkebunan kelapa sawit Indonesia. Untuk mendapatkan akses ke tanah bergambut yang subur, perusahaan dan petani ilegal sering kali melakukan pembakaran terlebih dahulu. “Pembakaran lahan ilegal untuk pertanian dan perkebunan” adalah penyebab utama karhutla yang tercatat di data Kementerian Kehutanan maupun data lembaga lain.
Ironi lainnya terletak pada anggaran penanggulangan bencana. Anggaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 2026 hanya berkisar 491 miliar. Dengan perbandingan bahwa alokasi pada periode krisis besar karhutla tahun 2015, 2019, dan 2022-2024 jauh lebih besar.
Dengan anggaran yang terbatas itu, BNPB harus menangani semua jenis bencana, bukan hanya kebakaran, tapi juga gempa bumi, banjir, dan letusan gunung berapi. Memangkas anggaran penanggulangan bencana saat risiko meningkat adalah strategi yang fatal dan berakibat pada dampaknya untuk penanggulangan bencana.
Perubahan iklim dan pola cuaca yang tidak terduga yang terjadi. Meskipun BMKG saat ini memprediksi kondisi La Niña (musim kemarau yang lebih basah), historis menunjukkan bahwa fenomena El Niño yang menghasilkan kemarau panjang yang masih bisa terjadi kapan saja. Tahun 2015, saat El Niño melanda, karhutla mencapai titik terburuk dengan 2,6 juta hektar lahan terbakar.
Perubahan iklim tidak hanya membuat musim kemarau lebih panjang, tapi juga lebih tidak terduga. Petani tidak bisa lagi mengandalkan kalender cuaca mereka. Tanah menjadi lebih kering lebih cepat. Vegetasi rentan terhadap api. Sistem prediksi cuaca yang meski canggih masih kesulitan meramalkan kondisi keadaan iklim daerah lokal.
DAMPAK yang Nyata, Bukan Hanya Asap, Tapi Krisis Kesehatan
Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 50.000 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah Kalimantan akibat asap karhutla. Angka ini terus meningkat bahkan di provinsi dengan aktivitas kebakaran minimal, karena asap terbawa angin lintas wilayah. Ini bukan penyakit biasa. ISPA adalah gangguan pernapasan yang bisa berkembang menjadi pneumonia, komplikasi serius yang bisa fatal terutama pada anak-anak dan lansia.
Indeks Kualitas Udara (AQI) di beberapa wilayah Kalimantan mencapai level yang hampir tidak bisa dibayangkan. Kabupaten Gunung Mas di Kalimantan Tengah, misalnya, mencatat AQI 710 (berbahaya) dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 430,9 µg/m³. Indeks Kualitas Udara (AQI) di Pontianak saat ini berada pada angka 1.115 hingga sekitar 133 dengan kategori buruk hingga berbahaya akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berarti setiap orang tanpa terkecuali akan berisiko tinggi mengalami efek kesehatan yang serius.
Asap karhutla mengandung campuran yang sangat berbahaya seperti karbon monoksida, nitrogen dioksida, sulfur dioksida, senyawa organik volatil, dan terutama partikel ultra halus PM2.5. Mengapa PM2.5 sangat berbahaya? Karena ukurannya 30 kali lebih kecil dari rambut manusia. Partikel sebesar itu bisa menembus jauh ke dalam paru-paru, bahkan masuk ke aliran darah. Masker kain biasa atau masker debu standar sama sekali tidak mampu menyaringnya. Hanya masker N95 yang cukup efektif akan tetapi harganya yang mahal, tidak nyaman untuk penggunaan jangka panjang, dan bahkan untuk penderita penyakit paru kronis, masker N95 bisa membuat pernapasan lebih berat.
Anak-Anak, Lansia, dan Ibu Hamil adalah Kelompok yang Paling Rentan
Tidak semua orang mengalami dampak karhutla dengan cara yang sama. Kelompok yang paling rentan akibat dari bencana ini adalah anak-anak, karena sistem pernapasan dan sistem imun mereka belum berkembang optimal. Paparan asap pada usia dini tidak hanya menyebabkan gangguan pernapasan akut, tapi juga bisa mempengaruhi perkembangan paru-paru seumur hidup mereka. Anak-anak yang tumbuh di daerah berkabel asap tinggi memiliki risiko lebih tinggi mengalami asma, bronkitis kronis, dan bahkan risiko kanker paru-paru di masa dewasa.
Di sisi lain, lansia juga tidak luput dari kerentanan, karena kapasitas pernapasan mereka sudah menurun seiring usia. Paparan asap berbahaya bagi mereka yang sudah memiliki kondisi pernapasan atau penyakit jantung. Asap dapat memicu serangan jantung atau stroke pada lansia.
Ibu hamil menjadi perhatian serius, dikarenakan paparan partikel halus dapat menembus plasenta dan mempengaruhi pertumbuhan janin. Studi menunjukkan bahwa ibu hamil yang terpapar asap tinggi memiliki risiko lebih besar mengalami kelahiran prematur atau bayi dengan berat lahir rendah. Penderita penyakit paru kronis seperti asma dan PPOK. Bagi mereka, asap karhutla bukan hanya ketidaknyamanan melainkan jadi ancaman langsung terhadap nyawa mereka.
