Oleh: Yossy – Kontributor FAHUTAN UNTAN
Ketika pertama kali menginjakkan kaki di kawasan mangrove untuk keperluan penelitian, satu hal langsung terasa berbeda yaitu kesunyian yang hidup. Dari balik jalinan akar yang mencuat dari lumpur, ada dunia tersendiri bagi kepiting yang berlarian, burung hinggap di dahan, dan air payau yang tenang menyimpan ribuan cerita kehidupan. Mangrove bukan sekadar pohon di tepi pantai. Lebih luas daripada itu mangrove adalah ekosistem yang menopang kehidupan jutaan orang, sekaligus garis pertahanan terakhir bagi wilayah pesisir kita.
Apa itu Hutan Mangrove?
Indonesia menyimpan sekitar 3,31 juta hektar hutan mangrove atau setara dengan 23 persen dari total mangrove di seluruh dunia (Putra et al., 2025). Angka itu terdengar membanggakan. Namun semakin dalam saya mempelajari kondisi lapangan, semakin jelas bahwa kekayaan ini sedang terancam dari berbagai arah. Hutan mangrove merupakan ekosistem peralihan antara daratan dan lautan yang umumnya ditemukan di wilayah tropis dan subtropis, terutama di sepanjang pantai yang terlindung serta di muara sungai. Ekosistem ini didominasi oleh berbagai jenis tumbuhan mangrove yang mampu tumbuh pada kawasan pesisir yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut (Babo et al., 2020). Menurut Arief (2023) tumbuhan mangrove dapat tumbuh dan berkembang di daerah pasang surut sesuai dengan tingkat toleransinya terhadap salinitas, lama penggenangan, jenis substrat, dan kondisi morfologi pantai.
Peran Mangrove Dalam Menjaga Keseimbangan Ekosistem
Hutan mangrove memiliki peran yang sangat besar bagi kehidupan manusia maupun lingkungan. Menurut (Syah, 2020) ekosistem mangrove memiliki keanekaragaman yang tinggi baik berupa flora maupun fauna yang memiliki manfaat fisik, ekonomi maupun ekologis. Sementara itu, Nanlohy et al. (2020) menyatakan bahwa hutan mangrove memiliki fungsi fisik, kimia, biologi, ekonomi, dan wisata yang sangat penting. Apabila hutan mangrove mengalami kerusakan atau bahkan hilang, berbagai kerugian akan dirasakan oleh manusia maupun makhluk hidup lainnya, termasuk moluska, kepiting, ikan, udang, dan biota berbagai biota pesisir lainnya yang bergantung pada ekosistem tersebut.
Manfaat Ekonomi bagi Masyarakat Pesisir
Selain berperan dalam menjaga keseimbangan lingkungan, hutan mangrove juga memiliki manfaat ekonomi yang besar bagi masyarakat pesisir. Mangrove menjadi sumber penghidupan melalui sektor perikanan karena berfungsi sebagai habitat dan tempat berkembang biak berbagai jenis ikan, udan, dan kepiting. Selain itu, kawasan mangrove dapat dikembangkan sebagai objek wisata alam yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.
Mangrove juga membantu melindungi infrastruktur pesisir dari abrasi dan bencana alam sehingga dapat mengurangi biaya perbaikan. Di beberapa daerah, mangrove dimanfaatkan sebagai sumber bahan bakar dan bahan bangunan. Keberadaan mangrove juga membantu menjaga produktivitas lahan pesisir dengan mencegah erosi dan kerusakan lingkungan.
Mangrove Sebagai Penyerap Karbon Alami
Salah satu manfaat penting hutan mangrove yang semakin mendapat perhatian adalah kemampuannya dalam menyerap dan menyimpan karbon dioksida (CO2) dari atmosfer hingga tiga sampai lima kali lebih banyak per hektar dibandingkan hutan hujan tropis biasa. Melalui proses fotosintesis, mangrove menyerap karbon dioksida (CO₂) dari atmosfer dan menyimpannya dalam biomassa, akar, tanah, serta endapan lumpur dalam jangka waktu yang lama. Kemampuan ini membantu mengurangi emisi gas rumah kaca, menekan pemanasan global, dan mencegah perubahan iklim. Selain itu, penyimpanan karbon oleh mangrove juga memiliki nilai ekonomi melalui potensi perdagangan karbon dan jasa lingkungan (Purnobasuki, 2018).
Pelindung Alami Wilayah Pesisir
Tumbuhan mangrove memiliki sistem perakaran yang khas dan kuat, yang berfungsi menahan abrasi, mengurangi erosi pantai, serta meredam energi gelombang laut saat pasang dan badai. Akar mangrove yang tidak beraturan (seperti akar tunjang atau napas) membentuk jalinan rapat yang berfungsi memecah energi gelombang dan memerangkap sedimen. Dengan kemampuan tersebut, hutan mangrove berperan sebagai benteng alami yang efektif dalam melindungi garis pantai dari abrasi dan ancaman kenaikan muka air laut. Keberadaan mangrove menjadi salah satu bentuk perlindungan alami yang sangat penting bagi wilayah pesisir Indonesia.
Ancaman Terhadap Kelestarian Hutan Mangrove
Meskipun ekosistem mangrove memiliki fungsi ekonomi maupun ekologis yang sangat tinggi, hutan mangrove mengalami ancaman yang cukup serius seperti degradasi akibat deforestasi, alih fungsi lahan menjadi tambak, penebangan liar, hingga pencemaran lingkungan. Berbagai upaya sudah dilakukan seperti restorasi dan penanaman kembali, pengelolaan pesisir berkelanjutan hingga edukasi kepada masyarakat. Dalam upaya mengatasi berbagai ancaman terhadap hutan mangrove sebenarnya sudah digaungkan-implementasi oleh berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), di sisi lain pemerintah turut mengambil langkah nyata dengan membentuk Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) akan tetapi dibubarkan per Desember 2024. Lembaga ini bertugas mempercepat rehabilitasi dan pelestarian ekosistem gambut serta mangrove guna menjaga keberlanjutan lingkungan dan keseimbangan ekosistem pesisir di Indonesia. Kesadaran kolektif menjadi langkah konkrit untuk kembali menjaga hutan mangrove dari segala ancaman.
Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kelestarian hutan mangrove. Dengan melestarikan mangrove, kita tidak hanya melindungi lingkungan pesisir, tetapi juga mendukung kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut. Oleh karena itu, menjaga hutan mangrove merupakan tugas bersama demi masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
