SIAR.OR.ID · Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan · Data per 10 Oktober 2026
Oleh: Muhardi Juliansyah – Peneliti SIAR
Sepanjang 1 Januari hingga 10 Oktober 2026, rekapitulasi hotspot konfidensi tinggi menjadi salah satu instrumen untuk memahami dinamika ancaman kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat. Dengan mengamati sebaran lokasi dan perkembangannya, data ini dapat membantu mengarahkan upaya deteksi dini, memperkuat respons di wilayah rawan, serta mendukung langkah pencegahan yang lebih terukur.
Berdasarkan kajian SIAR (2026), puncak kemunculan hotspot terjadi pada Agustus dan September. Lebih dari separuh hotspot yang terdeteksi selama periode tersebut berada di Kabupaten Ketapang, sementara lebih dari sepertiganya teridentifikasi di lahan gambut. Temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas hotspot terkonsentrasi pada periode tertentu, dengan Ketapang dan ekosistem gambut menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian lebih dalam upaya pencegahan kebakaran.
Tiga pola ini menjadi temuan utama dalam rekapitulasi yang dikaji dari data NASA FIRMS (satelit MODIS dan VIIRS) dan pencocokan dengan peta administrasi, lahan gambut, ekosistem gambut, serta areal perizinan.
- Hotspot adalah titik panas yang terdeteksi satelit. Hotspot konfidensi tinggi adalah titik yang tingkat keyakinan deteksinya paling kuat yaitu kelas “high” untuk VIIRS dan konfidensi 80% ke atas untuk MODIS. Dengan begitu, kemungkinan titik tersebut berupa api aktif di lapangan lebih besar dibanding hotspot berkonfidensi rendah.
- Hotspot adalah indikasi, bukan konfirmasi kebakaran. Satu kebakaran bisa terekam oleh beberapa satelit dan beberapa piksel sekaligus, sehingga angka dalam rekap ini adalah jumlah deteksi, bukan jumlah kejadian kebakaran, selain itu verifikasi lapangan diperlukan untuk memvalidasi hotspot.
88% Hotspot 2026 Terkonsentrasi pada Agustus dan September
Pantauan satelit mendeteksi 16.385 hotspot konfidensi tinggi periode Januari-Oktober. Hampir seluruhnya muncul dalam dua bulan (Agustus dan September). Sedangkan Januari hingga Juli relatif rendah, dengan kenaikan kecil pada Maret (277 hotspot) dimana lonjakan hotspot terjadi saat puncak kemarau.

Ketapang Menyumbang Lebih dari Separuh Hotspot Kalimantan Barat
Sebaran hotspot di Kalimantan Barat pada 2026 paling banyak ditemukan di Kabupaten Ketapang, dengan total 8.508 hotspot atau 51,9% dari seluruh hotspot yang tercatat. Sebagian besar hotspot di Ketapang muncul pada Agustus dan September. Setelah Ketapang, jumlah hotspot terbanyak tercatat di Kabupaten Kubu Raya sebanyak 1.454 hotspot (8,9%), Sanggau 1.228 hotspot (7,5%), Melawi 1.133 hotspot (6,9%), dan Kayong Utara 1.014 hotspot (6,2%).

Jika digabungkan, lima kabupaten tersebut menyumbang 81,4% dari total hotspot di Kalimantan Barat. Artinya, lebih dari empat dari setiap lima hotspot terkonsentrasi di lima wilayah ini. Sebaliknya, jumlah hotspot di wilayah perkotaan jauh lebih rendah, yaitu 33 hotspot di Kota Singkawang dan hanya 2 hotspot di Kota Pontianak.
Lebih dari Sepertiga Hotspot Berada di Lahan Gambut
Menurut peta tanah gambut BBSDLP, 5.958 hotspot (36,4%) jatuh di lahan gambut, dengan puncak pada Agustus (3.389) dan September (2.077). Jika memakai batas Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) yang lebih luas, 7.426 hotspot (45,3%) berada di dalam ekosistem gambut. Rinciannya, 4.044 hotspot (24,7%) berada di KHG fungsi lindung dan 3.382 hotspot (20,6%) di KHG fungsi budidaya.

Hotspot gambut terkonsentrasi di tiga Kabupaten yaitu Ketapang (3.300), Kubu Raya (1.253), dan Kayong Utara (872). Ketiganya memuat 91% dari seluruh hotspot gambut. Di Kubu Raya dan Kayong Utara, lebih dari 85% hotspot berada di gambut. Sebaliknya, Kabupaten pedalaman seperti Sanggau, Sintang, dan Sekadau hampir seluruh hotspotnya berada di tanah mineral.

Hampir Dua Pertiga Hotspot Berada di Dalam Areal Perizinan
Sebanyak 10.360 hotspot (63,2%) berada di dalam areal perizinan, sedangkan 6.025 hotspot (36,8%) berada di luar perizinan, dengan rincian Perkebunan sawit mencatat hotspot terbanyak dengan 7.139 hotspot di areal 286 pemegang izin. Sekitar 46,8% diantaranya berada di gambut. PBPH-HT (HTI) mencatat 3.242 hotspot di areal 44 pemegang izin, dengan hanya 8,4% di gambut. PBPH-HA mencatat 857 hotspot di areal 23 pemegang izin. PBPH-RE mencatat 114 hotspot pada satu pemegang izin, dan 95,6% diantaranya berada di gambut.

- Perlu dicatat, hotspot di areal yang tumpang tindih antar izin dihitung pada setiap izin terkait. Karena itu, angka per tipe izin tidak bisa dijumlahkan begitu saja. Di luar areal perizinan, 37,6% dari 6.025 hotspot juga berada di gambut.
Perusahaan Dengan Hotspot Terbanyak Banyak Berada di Ketapang
10 perusahaan teratas mencatat total 4.069 hotspot, dan delapan diantaranya berada di Kabupaten Ketapang. Seperti PT Mekar Karya Kahuripan (Sawit) dengan 539 hotspot, 93,3% di gambut, PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (PBPH-HA) dengan 515 hotspot, 82,9% di gambut. PT Mega Alam Sentosa (PBPH-HT) dengan 503 hotspot, 10,7% di gambut. PT Kayung Agro Lestari (Sawit) dengan 467 hotspot, 83,9% di gambut dan PT Sinar Karya Mandiri (Sawit) dengan 431 hotspot, 72,6% berada di lahan gambut.

Sedangkan peringkat 11–20, tiga perusahaan sawit di Kubu Raya memiliki 94–100% hotspot di gambut. Secara keseluruhan, 10 dari 20 perusahaan teratas memiliki lebih dari separuh hotspotnya di lahan gambut.

- Lahan gambut yang kering mudah terbakar, apinya sulit dipadamkan, dan asapnya bisa bertahan lama. Karena itu, hotspot di gambut, terutama di KHG fungsi lindung, perlu mendapat perhatian lebih dulu. Dalam rekap ini, mayoritas hotspot di ekosistem gambut memang berada di fungsi lindung.
- Data perizinan bersifat indikatif. Data sawit (kompilasi IUP, ILOK, HGU, dan dataset oil palm concession Global Nature Watch) mungkin belum memuat perubahan status dari ILOK/IUP menjadi HGU. Data PBPH mungkin belum memuat pemegang izin yang mengubah sebagian atau seluruh RKU menjadi proyek karbon.
- Keberadaan hotspot di suatu areal izin belum dapat dijadikan bukti mutlak, data perizinan adalah kompilasi dan mungkin belum mutakhir/update. Hubungan hotspot dengan pihak yang bertanggung jawab hanya dapat dipastikan lewat verifikasi lapangan dan proses hukum yang berlaku.
Ringkasan
- 88% hotspot terdeteksi pada Agustus–September 2026.
- 52% berada di Kabupaten Ketapang (8.508 hotspot).
- 36% berada di tanah gambut, dan 45% di dalam KHG.
- 63% berada di dalam areal perizinan, dengan areal sawit paling banyak (7.139).
- 37% berada di luar perizinan (6.025 hotspot).
Sumber: NASA FIRMS (MODIS dan VIIRS), BBSDLP 2019, peta fungsi ekosistem gambut (KHG), kompilasi indikatif perizinan sawit dan PBPH, diolah. Update per 10 Oktober 2026.
