Oleh: Yossy – Kontributor FAHUTAN UNTAN
Mengenal Gambut:
Bayangkan jika kita diminta bertani di atas spons raksasa yang terendam air, dengan tanah seasam cuka dapur, nyaris tanpa nutrisi, dan begitu lembut sehingga pohon besar pun bisa tumbang begitu saja. Kebanyakan orang akan mundur. Lahan gambut sering dipandang paradoks. Disatu sisi, lahan ini adalah “spons raksasa” alami yang menyimpan cadangan karbon luar biasa dan air dalam jumlah masif hingga 13 kali bobotnya (Agus & Subiksa, 2008). Di sisi lain, bagi dunia pertanian konvensional, gambut adalah lingkungan yang sangat ekstrim, super asam dengan pH mencapai 3,0-4,0 yang hampir setara dengan cuka dapur, miskin hara, dan strukturnya berpori sehingga lembek membuat pohon besar dapat mudah rebah.
Beberapa kabupaten di Kalimantan Barat, membuktikan bahwa tantangan alam bukan mustahil untuk dilakukan. Rahasianya bukan dengan melawan alam, melainkan dengan memahami ritme hidrologinya dan menghormati batasan ekologisnya. Ekosistem gambut di Kalimantan Barat tersebar pada 124 Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) dengan luas sekitar 2,8 juta ha.
Inovasi Pengelolaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB)
Selama beberapa generasi, membakar lahan dianggap solusi tercepat dan termurah untuk menetralkan asam dan membersihkan lahan. Namun, praktik ini juga dapat jadi pemicu utama kebakaran yang merusak lingkungan, mengancam kesehatan seperti (ISPA), dan melepaskan emisi gas rumah kaca yang masif.
Saat ini, para petani di desa-desa seperti Desa Malikin di Kecamatan Mempawah Hilir dan Desa Limbung di Kecamatan Sungai Raya beralih ke Pengelolaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB). Tahapannya dimulai dengan menebas vegetasi menggunakan gergaji mesin untuk menjaga struktur tanah, lalu sisa-sisa tanaman tersebut dirancek dan dibiarkan membusuk secara alami sebagai pupuk organik atau dikelola menjadi pupuk bokashi. Melalui pendampingan dari lembaga seperti YKAN dan SITH ITB, limbah lokal seperti sagu kering, tepung ikan, hingga kelapa udang dimanfaatkan untuk memperkaya nutrisi tanah tanpa harus menyalakan satu pun api.
Menjaga Nafas Gambut: Tata Air yang Bijak
Kunci utama keberlangsungan pertanian gambut terletak pada airnya. Gambut tidak boleh dikuras habis melalui drainase berlebihan. Jika airnya surut drastis, tanah akan berubah dari kondisi kedap udara atau anaerobik menjadi aerobik, kondisi ini dapat memicu bakteri perombak “mengamuk” dan memakan bahan organik. Dampaknya sangat ngeri, permukaan tanah akan amblas dan gambut akan mengalami pengeringan yang tidak stabil, akibatnya tidak akan pernah bisa menyerap air lagi dan akan menjadi sangat mudah terbakar.
Di Kalimantan Barat, solusi yang diterapkan adalah pembangunan sekat kanal (canal blocking) atau bendungan kecil. Di Desa Limbung misalnya, saluran drainase dibuat terbatas yang ukuranya hanya selebar 0,5 m alasannya agar tidak terlalu besar atau berlebihan (Azzahra, et al., 2024), alasan ini juga diperkuat oleh Imanudin dan Bakri (2016) menurutnya, drainase yang berlebihan dapat mengakibatkan hilangnya kemampuan gambut untuk menahan air. Drainase ini kemudian berfungsi untuk mengalirkan air berlebih saat hujan tanpa membuat gambut menjadi kering kerontang saat kemarau. Strategis ini win-win solution untuk menjaga kelembaban ekosistem sekaligus mempertahankan produktivitas lahan.
Senjata Rahasia Mikrobiologis dan Sistem Raised Bed
Selain pengelolaan lahan yang tepat, keberhasilan pertanian di lahan gambut Kalimantan Barat juga didukung oleh mikroorganisme bermanfaat seperti Azotobacter, Bacillus, dan Pseudomonas yang membantu menyediakan unsur hara bagi tanaman secara alami. Penelitian oleh Suwatno, (2012) menunjukkan keberadaan bakteri-bakteri tersebut yang berpotensi meningkatkan kesuburan tanah dan mendukung pertanian berkelanjutan.
Inovasi fisik seperti sistem bedengan yang ditinggikan (raised bed) juga menjadi andalan, seperti yang dikembangkan di Desa Teluk Bayur. Dengan menggunakan papan kayu batako, petani menciptakan media tanam yang ideal bagi jahe dan sayuran tanpa perlu khawatir perakaran terendam air, sementara kelembaban gambut di bawahnya tetap terjaga.
Modal Sosial dan Kearifan Lokal
Teknologi secanggih apapun tidak akan bertahan lama tanpa dukungan masyarakat. Di Kalimantan Barat, keberlanjutan inovasi sangat bergantung pada modal sosial dan partisipasi aktif warga, terutama melalui kelompok lokal seperti Kelompok Tani, Lembaga Adat, dan kelompok swadaya masyarakat. Petani lokal juga memiliki kearifan tradisional dalam memilih jenis tanaman yang sesuai dengan kedalaman gambut; menggunakan gambut dangkal (<3 meter) untuk budidaya intensif dan membiarkan gambut dalam sebagai kawasan lindung.
Masa depan ketahanan pangan khususnya di lahan gambut tidak harus mengorbankan kelestarian alam. Dengan inovasi biologis, manajemen air yang cerdas, dan penghormatan terhadap batasan alam, kita dapat membangun pertanian yang produktif di atas lahan gambut tanpa harus merusaknya.
Sumber:
Suwatno, A. M. W. Y. (2012). Eksplorasi bakteri penambat nitrogen dan bakteri pelarut fosfat pada tanah gambut di Provinsi Kalimantan Timur (Skripsi, Universitas Airlangga). Repository Universitas Airlangga.
Agus, F. dan Subiksa, I.G.M. 2008.Lahan Gambut: Potensi untuk pertanian dan Aspek Lingkungan. Balai Penelitian Tanah dan World Agroforestry centre (ICRAF). Bogor. Indonesia
Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). (n.d.). Solusi Iklim Alami di Indonesia. Laporan Kajian Ilmiah https://www.ykan.or.id/id/publikasi/artikel/perspektif/solusi-iklim-alami-di-indonesia/
Purbaningrum, E., Azzahra, F., & Fikri, M. R. A. (2024). Pengelolaan Lahan Gambut Tanpa Bakar dalam Budidaya Hortikultura di Desa Limbung Kalimantan Barat. Jurnal Agrimanex, 5(1), 58-67
Imanudin, M. S., & Bakri. (2016). Model Drainase Lahan Gambut Untuk Budidaya.
