Permasalahan dalam Rantai Pasok Sawit Rakyat

Rantai pasok kelapa sawit yang ideal seharusnya melibatkan mekanisme yang ringkas. Khusus untuk sawit rakyat, alurnya hanya ada tiga yakni petani swadaya, koperasi/kelompok tani, dan terakhir pabrik kelapa sawit (PKS). Sayangnya, kondisi di lapangan jauh berbeda dan menyulitkan petani kecil. 

Berdasarkan data dari Badan Pengelola Dana Kelapa Sawit, rantai pasok saat ini beragam di berbagai daerah. Namun satu kemiripan dari banyaknya alur itu adalah selalu melibatkan perantara (bisa disebut tengkulak). 

Salah satu contoh rantai pasok yang ada saat ini, TBS dipanen dari kebun petani yang kemudian dikumpulkan koperasi/kelompok petani. Setelah itu TBS dijemput oleh agen kecil, yang mendistribusikannya ke agen besar, lalu ke pemegang DO (delivery order). Setelah itu barulah kemudian TBS sampai ke PKS. 

Rantai pasok ini tak hanya panjang, tapi juga merugikan petani. Pasalnya, setiap titik/pihak turut mengambil profit sepanjang rantai pasok. Ini jelas mengurangi berpengaruh pada harga dan mengurangi keuntungan yang seharusnya dapat diperoleh petani swadaya. 

Masalah tidak berhenti di situ. Kesejahteraan petani sawit rakyat menjadi taruhannya lantaran untung yang didapat tidak seberapa. Padahal, petani kecil juga harus menutup ongkos produksi, membayar upah pemanen, serta membutuhkan dana pemeliharaan kebun. Setelah dikurangi itu semua, berapa dana yang tersisa? Bisa jadi tidak cukup untuk menjalani kehidupan yang layak dan sejahtera.

Pentingnya Sumber Pasokan Kelapa Sawit Terverifikasi

Saat ini Indonesia sedang getol mengampanyekan tentang sawit berkelanjutan. Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah adalah mewajibkan sertifikasi sawit berkelanjutan yang dikeluarkan oleh Indonesian sustainable palm oil (ISPO) melalui Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2020 tentang Sistem Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia. 

Aturan ini dibuat untuk memastikan bahwa kelapa sawit dan produk turunannya diproduksi sesuai dengan standar dan kebijakan ISPO. Sawit dianggap berkelanjutan jika nihil deforestasi, nihil pengembangan gambut, dan nihil eksploitasi (NDPE). Di sini lah kemudian mengapa transparansi rantai pasokan komoditas tersebut menjadi krusial. 

Rantai pasok kelapa sawit yang transparan seharusnya mudah untuk ditelusuri. Keterlacakan tersebut harus sampai di sumbernya yakni perkebunan kelapa sawit tempat tandan buah segar dipanen hingga manufakturnya. Cara termudah untuk memverifikasi sumber pasokan ini adalah melalui sertifikasi keberlanjutan ISPO. 

Verifikasi juga penting untuk memastikan bahwa kelapa sawit tersebut tidak berasal dari perusahaan perkebunan kelapa sawit yang menyebabkan deforestasi dan kebakaran hutan dan lahan. Setiap tahun produksi minyak sawit global mencapai 58,84 juta ton, yang mana 85 persen dipasok oleh Indonesia dan Malaysia. 

Namun, komoditas kelapa sawit dari Indonesia disebut masih berkelindan dengan berbagai persoalan lingkungan, konflik sosial, dan praktik tidak berkelanjutan. Ini menjadi tantangan bagi semua pihak dalam mewujudkan sawit berkelanjutan yang diakui dunia. 

Tantangan lain terkait sumber pasokan yang terverifikasi ini berhubungan dengan kebun sawit swadaya yang dikelola oleh petani kecil dengan luasan di bawah 25 hektare. Saat ini, petani kecil kesulitan mengantar tandan buah segar ke pabrik kelapa sawit karena keterbatasan akses. Selain itu, perusahaan juga hanya boleh menerima kelapa sawit dari pekebun yang telah memiliki kelembagaan. Kondisi ini memaksa petani untuk menjual ke perantara/tengkulak. Model rantai pasok ini sulit untuk dilacak karena seringkali tengkulak mencampur TBS dari berbagai sumber. 

Selain itu, saat ini belum ada skema penyelesaian kebun sawit di dalam kawasan hutan, terutama sawit swadaya rakyat. Ini pekerjaan rumah bagi pemerintah jika ingin serius mewujudkan sawit berkelanjutan di Indonesia. 

Pelatihan WTA untuk Petakan Sawit Masyarakat

SIAR.OR.ID Pekanbaru  –  Pelatihan Pemanfaatan Wahana Tanpa Awak (WTA) untuk Pemetaan Sawit Rakyat terlaksana di Pekanbaru pada 29-4 November 2018. SIAR Nusantara dipercaya oleh Yayasan KAHATI menjadi intruktur pada pelatihan ini. Peserta pada pelatihan ini adalah jajaran Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) wilayah Riau.

Proses dalam pelatihan ini dimulai dengan pengenalan jenis dan manfaat WTA itu sendiri, setelah peserta tahu jenis dan pemanfaatan WTA tahapan selanjutnya adalah pengenalan koponen-komponen yang terdapat pada WTA. Tak lupa regulasi dan aturan yang ditetapkan oleh mentri perhubungan terkait regulasi penggunaan WTA disampaikan juga kepada peserta pelatihan.

Sebelum memasuki sesi praktik lapangan, peserta diajak melakukan simulator, dalam tahap simulator ini, peserta akan terbiasa menggunakan transmiter terkait fungsinya ketika menerbangkan WTA.

Setalah rangkaian tersebut dilalui, praktik  lapangan menjadi hal penting. Peserta dibawa ke lapangan menerbangkan fixed wing untuk mengambil data foto udara. Sebelum ke pasawat misi kami menyiapak pasawat trainer untuk peserta terbangkan. Setalah berhasil menerbangkan pasawat trainer langusng kami pandu untuk menerbangkan pasawat misi Skywalker.

Dalam penerbangan Skywalker, dari Sembilan peserta kami membaginya menjadai tiga kelompok. Setiap kelompok akan membuat team yang terdiri dari Pilot, Teknisi dan Ground Control Station (GCS). Setalah semua unsur terpenuhi peserta pelatihan itu sendirilah yang menerbangkan dan mengambil data lapangan menggunakan WTA.

Imrialis salah satu peserta dalam pelatihan mengatakan, teknologi seperti ini sangat bermanfaat dan memudahkan pekerjaan. Kedepannya bukan tidak mungkin bagi kami APKASINDO Riau menggunakan teknologi seperti ini untuk memetakan sawit masyarakat.

Rangkain penerbangan dan pengambilan data selesai. Di hari terkahir pelatihan salah satu intsruktur memandu para peserta untuk mengola data penerbangan di aplikasi Argisoft Photo Scan yang fungsinya menjahit foto-foto udara tersebut menjadi sebuah hamparan dengan tingkat resolusi tinggi. Tahapan pengolahan data menjadi sesi terkahir dalam pelatihan Pemanfaatan WTA untuk Pemetaan Sawit Rakyat.

 

Training Pengoprasian WTA Bersama ICCTF.

Jakarta, siar.or.id –  Sebagai lembaga non pemerintah yang bergerak dalam upaya mewujudkan keadilan dalam penguasaan ruang untuk kelestarian ekosistem yang selaras dengan kesejahtraan masyarakat. SIAR juga fokus pada pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dibidang pemetaan, survey, fotogrametri dan AUV/AUS.

Sementara itu, baru- baru ini Tim SIAR dalam beberapa hari memfasilitasi ICCTF dalam pengoprasian Wahana Tanpa Awak (WTA) di Jakarta.

Angga Rizky Ananta selaku Direktur Eksekutif SIAR mengatakan, pelatihan ini merupakan langkah awal dalam mengenal kompenen-komponen dan cara pengoprasian WTA.

” Penyedian pelatihan ini dalam rangka menitoring dan evaluasi proyek”, kata Angga.

Aktivitas pemenfaatan teknologi di bidang pemetaan, menitoring sudah SIAR geluti sejak 2013. Setidaknya sudah 9 Provinsi di Indonesia yang sudah SIAR fasilitasi dalam pengembangan SDM dan perakitan WTA.

26 Ribu Hektar Sawit Mayarakat di Petakan di Dua Desa

Kalimantan Tengah, siar.or.id – Maraknya perkebunan sawit tentu  menjadi daya tarik ekonomi  di bidang perkebunan. Apalagi banyak konsesi perkebunan sawit secara langsung mau pun tak langsung berdampingan dengan pemukiman masyarakat. Tentu, sebagain masyarakat yang  mempunyai tanah akan bermitra dengan pihak perusahaan atau pun kalau tidak bermitra masyarakat akan membuka lahan sawit sendiri dan hasil panennya akan dijual ke perusahaan atau pengepul  lainnya.

Setalah peraturan presiden No 66 Tahun 2018 tentang Kepemilikan tanah di dalam  kawasan hutan akan di lakukan dengan Sekema Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) Maka sawit-sawit masyarakat yang masuk dalam kawasan hutan akan di ajukan dalam skama TORA dan akan didorong agar masyarakat mendapatkan Sertifikat Kepemilikan dan Budidaya.

Untuk bahan pengajuan tersebut langkah awal yang kami lakukan adalah dengan melakukan pemetaan di kedua Desa yaitu desa Paranggean dan desa Mekar Jaya di Provinsi Kalimantan Tengah yang mana pemetaan ini sudah barang tentu akan terlihat pola penggunaan lahan.

Di pola penggunaan lahan ini lah akan tergambar keadaan  ekonomi, budaya dan pendidikan masyarakat. Pemetaan yang kami lakukan dengan memanfaatkan teknologi yang sedang berkembang yaitu mengambil gambar udara menggunakan Pasawat Tanpa Awak (Drone) dengan hasil gambar udara beresolusi tinggi sehingga peta yang dihasilkan nantinya akan lebih detail. Adapun luasan lahan yang kami petakan untuk desa Paranggean seluas 9 ribu hektar Sedangkan Desa Mekar Jaya seluas 17 ribu Haktar masing-masing adalah perkebunan sawit masyarakat.

 

 

Menuju Pengelolaan Sawit yang Bekelanjutan dan Ramah Lingkungan

Basitang, Sumantra Utara, siar.or.id – Keberadaan sawit masyarakat tak bisa dipandang sebelah mata. Walaupun luasan wilayah kelolanya lebih besar dari wilayah kekola perusahaan, namun hak-hak dan legalitas perkebunan sawit masyarakat harus diperhatikan oleh pemerintah.

Auriga dan SIAR dalam ini melakukan pendataan dan memetakan  terhadap perkebunan sawit masyarakat agar kedepannya perkebunan sawit masyarakat mendapat surat tanda daftar budidaya. Setidaknya sudah beberapa wilayah di Indonesia yang sudah dilakukan pendataan dan pemetaan yang dilakukan oleh tim pemetaan Auriga dan SIAR. Disemua wilayah proyek pemetaan yang dilakukan menggunakan drone dengan hasil gambar udara beresolusi tinggi

Direktur Eksekutif SIAR Nusantara  Erlangga Rizki Ananta megatakan, kami membantu masyarakat untuk mengidentifikasi tanah dan perkebunan kelapa sawit mereka.

“Aktivitas ini menghasilkan data spasial perkebunan kelapa sawit yang terintegrasi dengan status kepemilikan dalam data atribut itu sendiri,” kata Angga.

Tujuan dari itu semua lanjut Angga adalah untuk pendapatkan perkebunan kelapa sawit masyarakat bersertifikat dan kami akan mendorong PEMDA agar memberikan Surat Tanda Dafrar Budidaya (STDB).

“Dengan upaya seperti  ini, kami mencoba mendorong agar perkebunan kelapa sawit dilakukan dengan praktik berkelanjutan dan menghormati lingkungan,” kata Angga.

Dorong Penyelesaian Sawit dalam Kawasan Hutan

Berau, siar.or.id – Dengan hadirnya perkebunan sawit  dalam kawasan hutan atau kawasan yang bernilai ekosistem penting mengakibatkan terjadinya tata kelola hutan yang tidak berkelanjutan. Dalam hal ini perlulah kiranya pengidentifikasian terhadap perkebunan kelapa sawit yang berada dalam kawasan hutan, baik itu sawit milik perusahaan atau pun sawit milik masyarakat. Untuk sawit rakyat skema TORA (Tanah Objek Reforma Agraria) dapat diusulkan. Hal itu akan menjadi sebuah legalitas bagi petani sawit.

Dalam hal ini Auriga bekerjasam dengan SIAR Nusatara melakukan pemetaan terhadap sawit rakyat yang terletak di Desa Tepian Buah, Kecamatan Segah, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur.

Jipra Evan Gunawan selaku Deputi  SIAR mengatakan, sebelum melakukan pemetaan kawasan sawit masyarakat, langkah awal yang dilakukan adalah melakukan koordinasi dengan pihak Jaflek.

“Setelah melakukan koordinasi dengan Jaflek, tim pemetaan mengadakan pertemuan degan pihak desa dan tokoh masyarakat setempat untuk membicarakan lokasi pemetaan dan membahas potensi desa yang dapat dikembangkan,” kata Jibra bercerita.

Adapun tujuan dari pemetaan ini adalah Pengambilan gambar dengan menggunakan Drone di wilayah Administrasi Desa Tepian Buah, Kecamatan Segah, Kabupaten Berau, hal itu dilakukan untuk mengidentifikasi wilayah-wilayah yang dimanfaatkan sebagai perkebunan sawit oleh masyarakat.

Jipra menjelaskan, pemetaan setiap lahan sawit dilakukan bersama  masyarakat dengan menggunakan GPS untuk menitik lokasi berdasarkan setiap kepemilikan, setealah itu pendalaman informasi terkait dengan kepemilikan di masing-masing lahan sawit yang telah dipetakan.

Hasil yang diharapkan dalam kegiatan di Desa Tepian Buah, Kecamatan Segah, Kabupaten Berau adalah tersedianya peta lokasi keberadaan sawit di kawasan hutan pada Desa Tepian Buah. Teridentifikasinya lokasi-lokasi sawit masyarakat yang berada di wilayah Desa Tepian Buah, kedepannya akan ada data atribut kepemilikan lokasi-lokasi sawit masyarakat yang berhasil diidentifikasi.

Tentu hal yang dilakukan ini adalah  tindak lanjut dalam menyelesaikan permasalahan lahan sawit yang berada di dalam kawasan hutan dan sejalan dengan instrumen tata kelola lahan pada Peraturan Presiden Nomor 88 Tahun 2017 tentang Penyelesaian Penguasaan Tanah dalam Kawasan Hutan. Dan skema TORA dalam hal ini tentu menjadi solusi bagi masyarakat. (Fathul Birri)

Menyediakan Kelengkapan Data Sawit Rakyat, SIAR Lakukan Identifikasi dan Pemetaan

Aceh, siar.or.id – Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpes)  No 88 Tahun 2017 tentang “ Penyelesaian Penguasaan Tanah dalam Kawasan Hutan”. Tim pemetaan SIAR Nusantara turun ke beberapa wilayah Indonesi untuk melakukan identifikasi dan mendata lahan sawit rakyat yang berada di kawasan hutan dengan menggunakan Wahana Tampa Awak (WTA).

Dalam pendataan dan pemetaan sawit rakyat ini setidaknya ada tiga desa dalam tiga provinsi yang menjadi fokus tim SIAR Nusatara. Tiga desa dalam tiga provinsi tersebut yakni : Desa Alur Bening, Kecamatan Babul, Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh. Desa Tepian Buah, Kecamatan Sagah, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur dan satu Desa terpilih di Kecamatan Besitang, Kabupaten  Langkat, Provinsi Sumatera Utara.

Yulius selaku Operator Dron SIAR Nusantara yang melakukan pendataan dan pemetaan di Desa Alur Baning,  Kecamatan Babul, Kabupaten Aceh Tenggara  mengatakan, luasan lahan yang dipetakan yakni seluas 6000 hektar.

“ Dengan luasan lahan 6000 hekatar tersebut kami mencoba menentukan estimasi perbangan selama tiga hari. Namun ada beberapa kendala sehingga estimasi penerbangan kami menjadi seminggu”, kata Yulius.

Kendala tersebut sambung Yulius, dikarenakan kawasan yang dipetakan adalah berbukitan sehingga perlu kesabaran dan kehati-hatian dalam mensetting dron agar hasil gambar yang didapat dalam penerbangan bagus dan beresolusi tinggi.

Pendataan dan pemetaan sawit rakyat mengapa menjadi penting dilakukan, tujuannya adalah agar tercipta sistem registrasi sawit rakyat atau yang lebih dikenal dengan Surat Tanda Daftar Budidaya ( STBD).

Erlangga Rizki Ananta Selaku Direktur SIAR Nusantara mengatakan, identifikasi dan pemetaan sawit rakyat yang kita lakukan adalah untuk menyediakan kelengkapan data terhadap status kepemilikan sawit oleh masyarakat.

“Metodelogi yang kita gunakan dalam mengidentifikasi sawit rakyat ini adalah dengan menggunakan Pasawat Tampa Awak (WTA) untuk mendapatkan citra satelit beresolusi tinggi dengan menggunakan foto udara. Sehingga data detail tersebut untuk mengidentifikasi lokasi-lokasi atau kepemilikan areal sawit rakyat tersebut. walau pun menggunakan teknologi nilai partisipatif tetap dilakukan agar masyarakat mengetahui ruang dan wilayahnya”, kata Angga yang sekaligus menjabat sebagai Litbang Auriga Nusantara.

Umumnya dalam satu kali penerbangan lanjut Angga kita bisa mengcover 1500 sampai 1800 hektar dengan resolusi 15 cm per picsel. Dengan lama terbang tergantung dengan kondisi cuacanya. “Biasanya lama penerbangan satu sampai satu jam setengah”, jelas Angga.

Berdasarkan data Ditjenbun 2017 secara statistik luasan sawit rakyat adalah 4,8 juta hektar dari total 12,3 juta hektar sawit Indonesia. Tapi, tidak tersedia data detail yang kredibel mengenai sawit rakyat. Maka dari itu, diharapkan dengan mengindetifkasi  dan melakukan pemetaan data detail luasan sawit rakyat dapat diketahui. (Fathul Birri)