Petakan Sawit Masyarakat dan Kenalkan WTA Kepada KUD

SIAR.OR.ID Ketapang  –  Pendataan dan pemetaan sawit masyarakat di Kabupaten Ketapang Kecamatan Air Upas dan Manis Mata masuk dalam tahap pendataan kepemilikan lahan. Pengambilan foto udara menggunakan fixed wing sudah dilakukan dengan hasil gambar resulusi tinggi. Dalam kegiatan pengambilan foto udara beberapa waktu lalu SIAR Nusantara menggandeng beberapa Koperasi Unit Desa (KUD) yang ada di kecamatan Air Upas dan Manis Mata.

Ketua Koperasi Unit Desa Yusuf Efendi menyambut baik kegiatan pemetaan dan pendataan yang dilakukan.Dia mengatakan, kegiatan ini sangat membantu masyarakat terkait wilayah kelola perkebunan sawit yang di kelola oleh Koperasi Unit Desa.

“ Kami menyambut baik kegiatan ini, apalagi kegiatan ini terkait perkebunan sawit masyarakat. Banyak sekali manfaat yang masyarakat dapatkan apabila kebunnya sudah ada peta, setidaknya masyarakat lebih merasa memiliki lahan, selain ada sertifikat, peta juga dapat memperkuat kepemilikan lahan kelolanya,” kata Yusuf.

Proses pemetaan dan pendataan menggunakan drone, selain untuk memenuhi syarat untuk pengajuan Surat Tanda Daftar Budidaya agenda lainnya adalah mengenalkan kepada masyarakat tentang teknologi dan pengetahuan dalam bidang pemetaan menggunakan drone yang dapat mengifesiensikan waktu dan biaya. Sehingga masyarakat yang ada di Kecamatan Air Upas dan Manis Mata lebih kenal dan bisa mengetahui teknologi dan perkembangan dalam bidang pemetaan wilayah.

Setidaknya ada 11 Koperasi Unit Desa (KUD) yang berada di Kecamatan Air Upas dan Manis Mata yang SIAR gandeng dalam kegiatan pemetaan dan pendataan kebun sawit masyarakat. Kedepannya data hasil pemetaan kebun mandiri masyarakat ini akan diserahkan ke pemilik lahan dan dinas perkebunan Kabupaten Ketapang. Hal ini lakakukan sebagai serpon keputusan Direktur Jendral Perkebunan No : 105/Kpts/PI 400/2/2018 Tentang Pedoman Penertiban Surat Tanda Daftar Usahan Perkebunan untuk Budidaya (STD-B) yang telah diatur oleh Kementrian Pertanian Republik Indonesia.

 

Peringatan Hari Hutan Sedunia, Apa Kabar Hutan Indonesia?

SIAR.OR.ID  Pontianak  –  Peringatan  Internasional Day of Forest merupakan salah satu bentuk komitmen dunia untuk menjaga hutan dan melindunginya dengan lestari. Bagi manusia, hutan memberikan peranan penting. Baik berupa ekonomi, budaya, pendidikan bahkan hal mistis sekalipun. Bagi masyarakat yang hidupnya bergantung dengan hutan sudah barang pasti segala kebutuhan tersedia di hutan. Air bersih, hewan serta tumbuhan lainnya yang tersedia dimanfaatkan masyarakat untuk melangsungkan hidupnya.

Hadirnya pemerintah dengan segala bentuk peraturan yang dibuat diharapkan dapat mengendalikan serta melestarikan fungsi hutan agar tidak dikuras secara brutal. Bukan sebaliknya, mengubah fungsi hutan menjadi perkebunan skala besar. Diperingata Internasional Day of Forest yang ke tujuh pada 21 Marat 2019 membuka mata sejauh mana pemerintah mempertahankan kawasan hutan yang ada agar tidak dibebani izin untuk perkebunan dan pertambangan. Serta, seberapa konsisten pemerintah Indonesia memberikan sumbangsi mengurangi perubahan iklim yang sudah terjadi.

Dengan jumlah tutupan hutan yang besar, tentu Indonesia mempunyai peran yang besar. Namun akhir-akhir ini hutan Indonesia menyusut drastis disebabkan terjadinya alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit skala besar. Data Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2015 menunjukan luas kawasan hutan Indoensia seluas 128 juta hektar. Dengan rincian, hutan konservasi seluas 27,4 juta hektar, hutan lindung seluas 29,7 juta hektar, hutan produksi terbatas 26,8 hektar, hutan produksi 29,3 juta hektar dan hutan yang bisa dikonversi seluas 12,9 juta hektar.

Selang dua tahun pada 2017 luas kawasan hutan Indonesia menyusut menjadi 125,9 juta hektar. kalau dirata-ratakan setiap tahunnya kawasan hutan Indonesia mengalami deforstasi sekitar 1 juta hektar. penyebabnya tak lain dikarenakan masifnya pembukaan kawasan hutan menjadi perkebunan dan pertambangan dengan alasan untuk mendongkrak perekomonian nasional dibidang perkebunan tanpa pikir panjang dampak dan konflik antara masyarakat yang terjadi.

Mudah-mudahan di momentum peringatan hari hutan sedunia ini tidak hanya menjadi ucapan serimonial. Peringatan hari hutan sedunia ini semoga menyadarkan kita akan pentingnya hutan bagi kehidupan semua makhluk dan senantiasa menjaga, melestarikan serta menafaatakan hutan sesuai dengan kebutuan tanpa harus merusknya.

2 Kecamatan di Ketapang, Sawit Masyarakatnya di Petakan

SIAR.OR.ID Ketapang –  Pendataan dan Pemetaan sawit masyarakat kembali dilakukan oleh SIAR Nusantara. Kali ini, pendataan dan pemetaan  dilakukan di Kabupetan Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat tepatnya di dua Kecamatan yakni Kecamatan Air Upas dan Manis Mata. Dari hasil pantauan dilapangan, sebaran sawit masyarakat cukup luas di dua Kecamatan tersebut. data yang sudah terambil total luasan yang SIAR petakan kurang lebih 20.000 ha belum keseluruhan sawit masyarakat yang ada di Kecamatan Air Upas dan Manis Mata.

Proses pendataan dan pemataan yang dilakukan ini merupakan salah satu langkah merespon keputusan Direktur Jendral Perkebunan No : 105/Kpts/PI 400/2/2018 Tentang Pedoman Penertiban Surat Tanda Daftar Usahan Perkebunan untuk Budidaya (STD-B) yang telah diatur oleh Kementrian Pertanian Republik Indonesia.

Dalam hal ini, peran dan fungsi Stakeholder sangat diperlukan dalam proses pedataan dan pemetaan kebun sawit masyarakat. Dalam melakukan pendataan dan pemetaan ini, kami menggadeng Pemerintahan Kabupaten Ketapang, yang mana ketika data perkebutan sawit masyarakat ini sudah mendapatkan Surat Tanda Daftar Usahan Perkebunan untuk Budidaya (STD-B) maka data sawit masyarakat akan menjadi data Kabupaten Ketapang.

Proses pertama untuk mendapatkan Surat Tanda Daftar Usahan Perkebunan untuk Budidaya (STD-B) sudah selesai dilakukan. Yakni pengambilan foto udara menggunakan Wahana Tanpa Awak (WTA), langkah selanjutnya adalah pendataan kepemilikan lahan perorangan dari hasil foto udara yang telah dijadikan peta. Setelah pendataan kepemilikan lahan selesai, tentu tindaklanjutnya kami serahkan ke pemerintahan Kabupaten Ketapang untuk mengesahkan  Surat Tanda Daftar Usahan Perkebunan untuk Budidaya (STD-B) untuk petani-petani sawit mandiri.

Teknologi WTA Mudahkan Pendataan Sawit Masyarakat

SIAR.OR.ID Kalimantan Timur – Pelatihan Pemanfaatan Wahana Tanpa Awak untuk Pemetaan Sawit Rakyat kembali digelar di Balikpapan Senin 17-21 Desember 2018. Kali ini KEHATI dan SIAR Nusantara memperkenalkan WTA kepada beberapa lembaga diantaranya adalah Sulawesi Community Foundation (SCF), Kawal Borneo Community Foundation (KBCF), Java Learning  Center (JAVLEC) dan Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS).

Dalam pelatihan ini, mereka dikenalkan dengan berbagai macam Wahana Tanpa Awak dan pemanfaatannya dalam dunia kerja, salah satunya adalah pendataan sawit masyarakat. Pemanfaatan WTA saat ini sangat mendukung dan memudahkan dalam kerja terutama pendataan, pemetaan dan monitoring kawasan.

Salah satu peserta pelatihan Saiful Anwar dari Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) mengatakan, dalam pemanfaatan Wahana Tanpa Awak ini sangat memudahkan dalam proses pendataan kebun-kebun petani yang ada di wilayah kami.

“Kedepannya kami berharap hasil dari pelatihan ini, kami dapat mengoprsikan WTA secara mandiri untuk mendata kebun-kebun petani”, kata Saiful.

Tak hanya Saiful, Herry peserta dari Kawal Borneo Community Foundation juga mengatakan, ketepatan, keakuratan serta efesiensi waktu juga dibutuhkan dalam pengambilan data suatu kawasan. Dalam hal ini WTA adalah salah satu teknologi untuk memudahkan dalam pekerjaan yang kami lakukan.

“Apalagi fokus pekerjaan kami adalah Perhutanan Sosial, tentu peta-peta yang akan kami hasilkan apabila mengambilannya menggunakan WTA akan lebih bagus dan lebih detail terkait kawasan hutan,” kata Herry.

Pelatihan yang berlangsung lima hari tersebut tidak hanya pengenalan dan pemafaatan Wahana Tanpa Awak saja, dalam tiga hari para instruktur memperkenalkan jenis-jenis WTA, komponen-komponen untuk membangun sebuah WTA serta oprasional dan standar keamanan dalam pemanfaatan dan penggunaan WTA. Dua hari berikutnya adalah latihan membuat flight plan dan praktik menerbangkan fixed wing langsung oleh peserta pelatihan.

Yulius salah satu instruktur pelatihan mengatan, peserta tak hanya dikenalkan dengan jenis dan pemanfaatan WTA  melainkan kami juga harus memastikan para peserta yang kami latih harus bisa menerbangkan dan membuat flight plan.

 

Pelatihan WTA untuk Petakan Sawit Masyarakat

SIAR.OR.ID Pekanbaru  –  Pelatihan Pemanfaatan Wahana Tanpa Awak (WTA) untuk Pemetaan Sawit Rakyat terlaksana di Pekanbaru pada 29-4 November 2018. SIAR Nusantara dipercaya oleh Yayasan KAHATI menjadi intruktur pada pelatihan ini. Peserta pada pelatihan ini adalah jajaran Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) wilayah Riau.

Proses dalam pelatihan ini dimulai dengan pengenalan jenis dan manfaat WTA itu sendiri, setelah peserta tahu jenis dan pemanfaatan WTA tahapan selanjutnya adalah pengenalan koponen-komponen yang terdapat pada WTA. Tak lupa regulasi dan aturan yang ditetapkan oleh mentri perhubungan terkait regulasi penggunaan WTA disampaikan juga kepada peserta pelatihan.

Sebelum memasuki sesi praktik lapangan, peserta diajak melakukan simulator, dalam tahap simulator ini, peserta akan terbiasa menggunakan transmiter terkait fungsinya ketika menerbangkan WTA.

Setalah rangkaian tersebut dilalui, praktik  lapangan menjadi hal penting. Peserta dibawa ke lapangan menerbangkan fixed wing untuk mengambil data foto udara. Sebelum ke pasawat misi kami menyiapak pasawat trainer untuk peserta terbangkan. Setalah berhasil menerbangkan pasawat trainer langusng kami pandu untuk menerbangkan pasawat misi Skywalker.

Dalam penerbangan Skywalker, dari Sembilan peserta kami membaginya menjadai tiga kelompok. Setiap kelompok akan membuat team yang terdiri dari Pilot, Teknisi dan Ground Control Station (GCS). Setalah semua unsur terpenuhi peserta pelatihan itu sendirilah yang menerbangkan dan mengambil data lapangan menggunakan WTA.

Imrialis salah satu peserta dalam pelatihan mengatakan, teknologi seperti ini sangat bermanfaat dan memudahkan pekerjaan. Kedepannya bukan tidak mungkin bagi kami APKASINDO Riau menggunakan teknologi seperti ini untuk memetakan sawit masyarakat.

Rangkain penerbangan dan pengambilan data selesai. Di hari terkahir pelatihan salah satu intsruktur memandu para peserta untuk mengola data penerbangan di aplikasi Argisoft Photo Scan yang fungsinya menjahit foto-foto udara tersebut menjadi sebuah hamparan dengan tingkat resolusi tinggi. Tahapan pengolahan data menjadi sesi terkahir dalam pelatihan Pemanfaatan WTA untuk Pemetaan Sawit Rakyat.

 

Petakan Hutan Adat di Klaso

SIAR.OR.ID Papua – Dalam kebijakan Reforma Agraria hutan adat masuk dalam perhutanan sosial. masyarakat adat tidak hanya mendapat akses pengelolaan, tetapi juga mendapat hak milik terhadap lahan dalam bentuk sertifikat. Hal ini dilakukan untuk memberikan kesempatan pada masyarakat agar memiliki, menguasai, menggunakan, dan memanfaatkan atas tanah dan hutan sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat termasuk juga masyarakat adat.

Terkait hal itu, SIAR Nusantara menurunkan tim pemetaan yang menggunakan Wahana Tanpa Awak (WTA) untuk mengambil foto udara beresolusi tinggi. Pemetaan hutan adat itu  dilakukan di hutan adat Marga MOI  Distrik Klaso Kabupaten Sorong Provinsi Papua Barat.

Luasan lahan yang dipetaan kurang lebih 15000 ha yang terdiri dari 7 desa diantaranta adalah Kampung Klaso, kampung Miskum, Kampung Siwis, Kampung Kalmugun, Kampung Sbaga, Kampung Klasik dan Kampung Malawili.

Hasil yang diharapkan kedepannya dengan adanya peta dengan hasil foto udara beresolusi tinggi ini dapat digunakan untuk mengakomodir kepentingan masayarak dalam penetapan kawasan adatnya. Karena hutan adat pengelolaanya berbasis masyarakat, maka hak yang diberikan akan relatif mencegah terjadinya penebangan liar (illegal logging) sebab masyarakat merasa memiliki dan tentu akan menjaganya.

Menuju Sawit Masyarakat Berlegalitas

SIAR.OR.ID Sumatra Utara  –  Pendataan dan pemetaan sawit rakyat kali ini tim SIAR Nusantara dan Auriga melakukan pengambilan gambar udara beresolusi tinggi di Desa Tomuan Holbung. Tomuan Holbung merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Bandar Pasir Mandoge, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara.

Akses jalan menuju desa ini sangat sulit, jalan berbatu dan tak rata menjadi kendala. Akses masuk ke desa ini harus melalui jalan perkebuna karet milik Aburizal Bakrie. Dengan kondisi jalan seperti itu, cukup memakan waktu untuk sampai ke desa Tomuan Holbung.

Pendataan dan pemetaan yang kami lakukan menggunakan Wahana Tanpa Awak (WTA) jenis fixed wing dengan hasil gambar udara beresolusi tinggi. Sekali terbang luasa wilayah yang dapat tercover kurang lebih 1700 ha.

Hasil dari pendataan dari pendataan sawit rakyat yang kami lakukan ini akan menjadi system database kepemilikan sawit yang dikelola oleh masyarakat. Kedepannya ligalitas sawit masyarakat akan lebih jelas bila Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) dikeluarkan oleh pemerintah.

untuk memulai itu, tentu kami akan meyediakan data dan peta terkait sebaran kepemilikan sawit masyarakat di seluruh Indonesai. identifikasi kepemilikan sawit rakyat untuk saat ini yang sudah kami kerjakan ada dibeberapa dibeberapa Provisi diantaranya Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sumatra Utara dan Papua.

BIG Mengatur Pedoman Teknis Ketelitian Peta Dasar

SIAR.OR.ID – Dengan keluarnya peraturan Kepala Badan Informasi Geospasial, penertiban peraturan per undang- undang standar spesifikasi teknis untuk mewujudkan ketelitian peta yang berdaya guna. Keluarnya peraturan kepala BIG ini mempertegas  Undang-Undang No 26 Tahun 2007 penataan ruang, Undang-undang No 4 Tahun 2011 Tentang Informasi Geospasial , menyusul lagi Peraturan  Pemerintah No 8 Tahun 2013 Tentang Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang dan Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 2014 pelaksana UU No 4 Tahun 2011 Tentang Informasi Geospasial kemudian keluar lagi Peraturan Presiden  No 94 Tahun 2011 Tentang Badan Informasi Geospasial.

Badan Informasi Geospasial memandang dalam penetapan peta dasar standar dan ketelitian suatu pedoman teknis sehingga menghasilkan perhitungan yang akurat, handal dan terpercaya serta dapat dipertanggungjawabkan dan dapat disepakati para pihak. Untuk mempertegas UU, PP, Perperes Kepala Badan Informasi Geospesial mengeluarkan peraturan dasar pedoman dan teknis ketelitian peta dasar. Dalam peraturan kepala BIG ini setidaknya ada beberapa pasal tentang pedoman teknis ketelitian peta dasar.

Pasal 1 menyebutkan peraturan kepala BIG yang mengatur pedoman teknis mengenai syarat dan ketentuan dalam standar dan ketelitian  peta dasar. Dalam pasal 2 menjelaskan maksud pasal 1 tentang syarat dan ketentuan dalam standar ketelitian peta dasar. Syarat dalam ketelitian geometri dan ketelitian abstrak/semantik.

Hal lain lebih lanjut, mengenai syarat dan ketentuan dalam standar ketelitian peta dasar sebagaimana dimaksud ayat 1 tercantum dalam lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari peraturan kepala BIG. Dalam peraturan kepala BIG menyebutkan bahwa pedoman teknis ketelitian peta dasar dimutahirkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi serta kemampuan nasional yang ada dengan menyesuaikan standar spesifikasi yang berlaku secara Nasioanl dan Internasional.

Untuk mendapatkan Peta Dasar yang teliti dan berdaya guna, ada beberapa istilah atau tahapan perencanaan yang harus dijalani ketika melakukan uji akurasi dalam menetukan peta. Tahapan itu diantaranya adalah Mean Square Error (RMSE), Circular Error 90% (CE90), Linnear Error 90% ( LE90), Error Matrix/Confasion matrix, Confidence Level 95% (CL95)

1. Mean Square Error (RMSE) adalah ketelitian peta dan nilai yang menggambarkan tingkat kesesuaian antara posisi dan atribut. Sebuah objek di peta dengan posisi dan atribut sebenarnya. Selain kesesuain antara posisi dan atribut hal lain adalah akar kaudarat dari rata-rata kaudrat selisih antara nilai koordinat data dan nilai koordinat dari sumber independent yang akuradinya lebih tinggi.

2. Circelur Error 90% (CE90) adalah ukuran ketelitian geometrik horizontal yg didefinisikan sebagai radius lingkaran yang menunjukan bahwa 90% kesalahan atau perbedaan posisi horizontal objek di peta dengan posisi yang dianggap sebenarnya tidak lebih besar dari radius tersebut.

3. Linnear Error 90% ( LE90) adalah ukuran ketelitian geometrik vertikal ( ketinggian) yaitu nilai jarak yang menunjukan bahwa 90% kesalahan atau perbedaan nilai ketinggian objek di peta dengan nilai ketinggian sebenarnya tidak lebih besar dari pada nilai jarak tersebut.

4. Error Matrix/Confasion matrix adalah penelitian akurasi menggunakan suatu matrix kontingensi yaitu sebuah matrix bujur sangkar yang memuat hubungan antara sampel terklarifikasi dan hasil uji lapangan (Ground Truth). Ketelitian keseluruhan (Overall Accuracy)  adalah perbandingan  jumlah total sampel hasil klarifikasi dengan jumlah sampel referensi.

5. Confidence Level 95% (CL95) adalah ukuran ketentuan geometrik horizontal dan vertikal yang didefinisikan sebagai nilai probalitas dimana nilai sebenarnya dari pengukuran akan terletak dalam tingkat kepercayaan 95% yang tergantung pada distribusi statistik yang diasumsikan dari data dan hitungan secara berbeda untuk kualitas 1 dimensi dan 2 dimensi.

Ketentuan peta dasar meliputi ketelitian geometri adalah nilai yang menggambarkan ketidakpastian koordinat posisi suatu objek pada peta dibandingkan dengan koordinat posisi objek yang dianggap posisi sebenarnya. Kompenen ketelitian giometri, terdiri atas akurasi horizontal dan akurasi verikal.
Ketelitian  atribut/semantik adalah nilai yang menggambarkan tingkat kesesuaian atribut antara suatu objek di peta dengan Dengan atribut sebenarnya. Ketelitian geometri peta dasar menurut UU No 4 Tahun 2011 Tentang Informasi Geospesial Peta Dasar Terdiri atas
1. Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI)
2. Peta Lingkungan Pantai Indonesia( LPI)
3. Peta Lingkungan Laut Indonesia (LLH)

Dalam peraturan kepala BIG menyebutkan bahwa pedoman teknis ketelitian peta dasar dimutahirkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi serta kempuan nasional yang ada dengan menyesuaikan standar spesifikasi yang berlaku secara Nasional dan Internasional. Untuk menjawab perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi tersebut Badan Informasi Geospesial menggandeng SIAR Nusantara untuk melakukan Uji Akurasi Peta Dasar dengan pemanfaatan Wahana Tanpa Awak (WTA). Tahapan dalam uji akurasi ini tentu menggunakan metode yang sesuai dengan Peraturan Kepala Badan Informasi Geospesial No 15 Tahun 2014 Tentang Pedoman Teknis Ketelitian Peta Dasar.

Uji Akurasi telah dilaksanakan di Berau, Provinsi Kalimantan Timur beberapa waktu lalu. Untuk saat ini Tim uji akurasi sedang menyesuaikan data yang di dapat dari lapangan untuk menentukan tingkat berhasilan dan berapa jumlah error dari hasil tersebut. Setalah data uji akurasi selesai di olah tim SIAR dan BIG akan mempubliksi hasil itu dengan bentuk Jurnal Uji Akurasi menggunakan Wahana Tanpa Awak (WTA).

Gunung Ambawang Sumber Air Bersih Masyarakat

SIAR.OR.ID Desa Ambawang, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya Provinsi Kalimantan Barat memiliki potensi suber daya alam yang berkelanjutan. Pasalnya, dikawasan Desa Ambawang tertancap kokoh gunung Ambawang yang sampai saat ini kelestariannya masih terjaga.

Beberapa waktu lalu tim SIAR Nusatara melakukan pemetaan di kawasan gunung Ambawang. Pemetaan ini diinisiasi oleh Bentang Kalimantan salah satu lembaga pendamping masyarakat dalam pendorong program Perhutanan Sosial. Potensi sumber daya alam yang terdapat di gunung Ambawang masih dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Salah satunya adalah air bersih.

Saril salah Tokoh masyarakat bercerita bahwa proteksi terhadap kawasan Gunung Ambawang akan terus dilestarikan. “ Gunung ini menjadi salah satu tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat. Bahkan ritual adat masih sering dilakukan di gunung tersebut,” Kata Saril.

Saril mengakui banyak sekali manfaat yang mereka terima ketika bersabat dengan hutan. Salah satunya terpenuhinya sumber air yang dapat di rasakan. Bahkan di Desa Ambawang sudah ada dua Embung penampung air bersih yang akan segara di distribusikan untuk masyarakat setempat.

 

 

 

 

Training Pengoprasian WTA Bersama ICCTF.

Jakarta, siar.or.id –  Sebagai lembaga non pemerintah yang bergerak dalam upaya mewujudkan keadilan dalam penguasaan ruang untuk kelestarian ekosistem yang selaras dengan kesejahtraan masyarakat. SIAR juga fokus pada pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dibidang pemetaan, survey, fotogrametri dan AUV/AUS.

Sementara itu, baru- baru ini Tim SIAR dalam beberapa hari memfasilitasi ICCTF dalam pengoprasian Wahana Tanpa Awak (WTA) di Jakarta.

Angga Rizky Ananta selaku Direktur Eksekutif SIAR mengatakan, pelatihan ini merupakan langkah awal dalam mengenal kompenen-komponen dan cara pengoprasian WTA.

” Penyedian pelatihan ini dalam rangka menitoring dan evaluasi proyek”, kata Angga.

Aktivitas pemenfaatan teknologi di bidang pemetaan, menitoring sudah SIAR geluti sejak 2013. Setidaknya sudah 9 Provinsi di Indonesia yang sudah SIAR fasilitasi dalam pengembangan SDM dan perakitan WTA.