Pelatihan WTA Bersama Papua Forest Watch


SIAR.OR.ID, Sorong – Pemanfaatan Wahana Tanpa Awak (WTA) merupakan suatu teknologi yang dapat membantu berbagai pekerjaan. Di antaranya adalah pemetaan dan pemantauan kawasan yang sulit dijangkau. Berbagai metode terus dikembangkan untuk mendapatkan hasil pemetaan dan pemantaun yang maksimal. Belum lama ini SIAR, AURIGA didukung oleh KEHATI memfasilitasi pelatihan pemanfaatan Wahana Tanpa Awak (WTA) serta pemantauan kawasan hutan yang diduga ada aktivitas perambahan.

Pelatihan dan pemantauan terlaksana di Sorong, Papua Barat. Dalam pelatihan tersebut yang dilakukan adalah membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mahir dalam pengoperasian pemanfaatan Wahana Tanpa Awak baik dibidang pemetaan, pemantauan dan  dokumentasi.

Pengenalan Komponen Wahana Tanpa Awak
Foto: Robbyeebor

Setidaknya dari pelatihan yang dilakukan tersebut akan terbentuk tim yang terdiri dari tiga orang untuk pengoperasian WTA. Papua Forest Watch (PFW)  adalah suatu lembaga yang konsen di bidang kehutanan, maka SIAR dan AURIGA serta Papua Forest Watch menyiapkan orang-orang yang akan dilatih untuk pengoperasian WTA tersebut.

Gunawan selaku staff Papua Forest Watch mengatakan, pemahaman terkait pemanfaatan WTA harus benar-benar digali karena ini sangat membantu pekerjaan dilapangan.

“Apalagi pekerjaan Papua Forest Watch dibidang kehutanan sudah barang pasti teknologi berupa Wahana Tanpa Awak (WTA) ini sangat membantu. Kami juga menyambut baik pelatihan ini, maka porsonil benar-benar akan kami siapkan supaya bisa menjadi tim yang siap kerja di lapangan setelah pelatihan ini,” kata Gunawan di sela-sela pelatihan.

Peserta pelatihan diberikan pemahaman terkait WTA. Mulai dari regulasi yang berlaku di Indonesia sesuai Undang-Undang, manajeman penggunaan yang baik dan benar, sistem serta anatomi WTA sehingga benar-benar bisa difungsikan dengan baik. Setelah memahami itu semua, peserta diajak dan dipandu menerbangkan pasawat jenis Cesna untuk mengasah kemampuan menerbangkan WTA. Setalah menguasai kemampuan terbang, baru peserta dipandu membuat rencana penerbangan di aplikasi Mission Planner kemudian pilot menerbangkan pesawat jenis Skywalker yang biasa digunakan untuk melakukan pemetaan dan pemantauan.

SIAR Petakan Kebun Sawit Masyarakat Bersama SPKS Paser

SIAR.OR.ID, Kalimantan Timur – SIAR kembali melakukan pemetaan menggunakan Wahana Tanpa Awak (WTA) di Kalimantan Timur tepatnya di desa Long Ikis, Kecamatan Long Ikis, Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur. Kali ini  yang dipetakan SIAR adalah kebun petani kelapa sawit mandiri yang ada di 5 desa.  Pemetaan ini terlaksana dikarenakan Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) ingin mendata kebun petani mandiri yang ada di Kecamatan Long Ikis terutama di 5 desa, terkait produktivitas hasil perkebunan kelapa sawit masyarakat.

Menurut Syaiful Anwar staff lapangan SPKS Paser, hingga saat ini terkait peta sebaran kelapa sawit masyarakat belum ada. Maka dari itu data areal pekebun sawit mandiri sangat kita butuhkan.

“Sebab data dan peta areal kebun ini menjadi salah satu syarat apabila ingin bermitra dengan perusahan. Maka dari itu kita SPKS Paser sangat menbutuhkan data tersebut agar bisa mendorong perusahaan mau bermitra dengan petani. Selama ini petani menjual buah sawit mereka lewat tengkulak-tengkulak dengan harga dibawah standar yang ditetapkan Disbun,” kata Syaiful.

Akuisisi data perkebunan Kepala Sawit Masyarakat Menggunakan Wahana Tanpa Awak (WTA) Bersama SPKS Paser. Foto: Fathul Birri

Total luasan areal yang dipetakan dari 5 desa itu kurang lebih 4000 hektar. Selain untuk mendorong kebijakan supaya perusahaan mau bermitra dengan mansyarakat banyak hal lain yang dapat dilakukan apabila peta areal kebun masyarakat sudah ada. “ salah satu diantaranya kita dapat mendorong Disbun untuk melakukan pen STD-B kebun-kebun petani yang ada di Kecamatan Long Ikis ini,” kata Syaiful.  

Estimasi pemetaan kebun sawit masyarakat di lima desa satu kecamatan kurang lebih 7 hari dengan hambatan cuaca mendung dan kondisi lain yang menghambat pekerjaan dilapangan.

Pelatihan Sekaligus Pemantauan, Perkuat SDM dalam Pengoperasian WTA


 SIAR.OR.ID, Sorong –  Lelaki itu beperawakan tegap, kekar tidak memakai baju dan bambu berukuran 5 meter di tangannya. Sesekali bambu itu diarahkannya ke atas. Kepala lelaki tersebut terlihat  menengadah memastikan buah pinang yang ingin diambilnya jatuh dari pohon. Kedatangan kami membuyarkan perhatiannya terhadap buah pinang yang mau diambilnya. “ Kakak silahkan masuk, kak Irma ada di dalam,” kata lelaki itu seolah tahu kami ingin bertemu dengan siapa.

Kedatangan kami ke Kantor Papua Forest Watch untuk mamastikan pelatihan yang akan dilaksanakan. Terkait peserta, komsumsi dan tempat. Setelah mendapatkan kepastian terkait pelatihan yang akan dilakukan, Erlangga Rezki Ananta meyampaikan agenda pelatihan dan output yang ingin dicapai pada pelatihan tersbut. “Selain mengadakan pelatihan, untuk  memantapkan hasil pelatihan, harapan kita akan ada satu tim Wahana Tanpa Awak (WTA) yang benar-benar jadi, maka maksud kami dalam pelatihan ini prakteknya akan dilakukan pemantauan terhadap kawasan hutan yang ada aktivitas perambahannya,” kata Erlangga Rezki Ananta .

Proses memperkenalkan bidang kemudi yang ada di pesawat latih jenis Cesna.
Foto: Robbyeebor

Irma menyambut baik kegiatan pelatihan serta hasil pemantauan sebagai hasil dari pelatihan tersebut. Papua Forest Watch akan menyiapkan personil yang akan dibentuk menjadi satu tim untuk pengoperasian Wahana Tanpa Awak (WTA) tersebut. Di sela-sela pembicaraan agenda pelatihan yang akan dilakukan Irma masuk ke ruang kerja, begitu keluar selembar kertas berada di tangannya. Kertas tersebut adalah sebuah peta, peta tersebut adalah sebuah peta hutan adat yang menurut informasinya sudah ada aktivitas perambahan. “Tinggal kita tentukan wilayah mana yang akan menjadi target pamantauan nanti,” kata Irma.

Pelatihan dan Penganalan Wahana Tanpa Awak (WTA)

Satu persatu peserta memasuki ruang pelatihan, salah satunya Hermanus pria berperawakan besar tinggi ini begitu ramah. Sebelumnya Hermanus pernah pengikuti pelatihan pemanfaatan WTA di Pontianak. Demi mengasah keterampilannya dalam mengoperasikan WTA Hermanus kembali mengikuti pelatihan yang dilakukan di Sorong, Papua Barat.

Hermanus mengaku banyak sekali ilmu yang didapat ketika mengikuti pelatihan di Pontianak. Mendengar AURIGA dan SIAR akan membentuk sumber daya manusia yang benar-benar bisa mengoperasikan WTA di bidang pemetaan dan pemantauan dan tim tersebut harus menjadi tim yang siap ketika melakukan monitoring maka kesempatan ini pun tak dilewatkan Hermanus.

Agenda pelatihan di hari pertama berjalan lancar, materi yang diberikan kepada peserta pelatihan adalah pengenalan dan pemanfaatan WTA di bidang kerja tertentu. Serta jenis-jenis WTA atau drone. Setelah memahami dan mengetahui jenis-jenis drone materi selanjutnya yang disampaikan kepada peserta adalah manajeman pengoperasian drone serta regulasi yang berlaku di Indonesia. Materi ini diberikan agar peserta memahami tahapan-tahapan yang dilakukan ketika ingin mengoperasikan drone atau wahana tanpa awak.


Pengenalan Wahana Tanpa Awak (WTA) yang dilakukan Intrukstur Pelatihan.
Foto Robbyeebor

Materi terkait drone atau wahana tanpa awak disampaikan dua hari. Setelah penyampaian materi tersebut agenda selanjutnya adalah praktek menerbangkan drone di lapangan terbuka. Drone atau WTA yang akan diterbangkan ada dua jenis pertama multirotor kedua fixed wing. Kedua jenis drone ini harus bisa dioperasikan oleh peserta. Proses penerbangan berjalan lancar, peserta satu persatu bergiliran untuk menerbangkan drone jenis fixed wing yang SIAR rakit sendiri. Setelah proses praktek penerbangan dan peserta tahu orientasi barulah salah satu peserta mengoperasikan fixed wing jenis Sky Walker yang bisa digunakan untuk melakukan pemetaan.

Tes terbang pun dilakukan dengan merencakana jalur terbang. “Sebelum terbang langkah awal yang kita lakukan adalah membuat jalur terbang di massion planner,” kata Fajar selaku staf lapangan AURIGA.

Fajar memandu peserta yang telah dibagi menjadi 3 kelompok. Dari tiga kelompok besar tersebut terdiri dari 3 orang. Ada pilot yang menerbangkan drone, Ground Control System (GCS) yang bertugas membuat jalur terbang dan memantau pergeralan pesawat ketika auto dan teknisi yang memastikan pesawat benar-benar baik dan siap untuk diterbangkan.

Setelah mendemokan pembuatan jalur terbang, Fajar meminta GCS yang telah ditunjung oleh kelompoknya untuk membuat jalur terbang sendiri. “Silahkan buat jalur terbang yang kalian inginkan, usahakan sebelum membuat jalur terbang kalian saling koordinasi,” kata Fajar.

Fajar Selaku Instruktur Pelatihan menjelaskan cara pembuatan jalur terbang WTA
Foto: Fathul Birri

Kelompok pertama merencanakan rute penerbangan WTA. Setelah rencana terbang dibuat, teknisi memastikan komponen dan body pesawat aman dan siap diterbangkan, kemudian pilot mengecek setiap bidang kemudi yang ada di pesawat. Dan pasawat siap diterbangkan. Setiap kelompok mendapat giliran untuk membuat rencana penerbangan dan mengoperasikan drone atau WTA.

Persiapan Pratik menerbangkan Pesawat latih yang dipandu langsung oleh Instruktur
Foto: Robbyeebor

Praktik dan Proses Monitoring Kawasan Hutan yang Dilakukan

Seusai pratek penerbangan di sekitaran Kota Sorong untuk melakukan monitoring kawasan hutan tim harus bergeser ke Maladofok. Perjalanan menuju lokasi memakan waktu kurang lebih 3 jam dari kota Sorong. Ada 3 tim yang berangkat dengan dua kendaraan. Medan yang ditempuh lumayan ekstrim dengan kondisi jalan beton dan banyak tikungan. Kawasan hutan yang menjadi target pemantaun kali ini adalah sekitar Hak Guna Usaha (HGU) PT. HIP.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang akhirnya kami sampai di lokasi pemantauan. Target selanjutnya adalah mencari home penerbangan yang aman serta jauh dari keramaian. Akirnya home yang dicari pun kami dapati, tim monitoring yang sebelumnya sudah dilatih langsung mempersiapkan unit. Ground Control System (GCS) yang ditangani oleh Mariao langsung membuat rencana penerbangan, sedangkan teknisi diambil alih oleh Roni langsung  meyiapkan tiang antena dan merakit drone, pilot diambil alih oleh Hermanus  menyiapkan transmiternya.

Mempersiapakan WTA untuk diterbangkan.
Foto : Ikmal

Persiapan usai, ketiga orang ini mengambil posisi masing-masing. Pilot dan teknisi mengecek bidang kemudi yang ada di drone sedangkan teknisi mengecek kondisi body drone dan komponen-komponen lainnya. “Semua aman dan siap terbang bang,” kata Roni memberi infromasi ke Mario selaku GCS. Mendengar aba-aba tersebut Mario mengoneksikan WTA dengan lantopnya yang ada di depan. Rencana penerbangan pun dikirim ke pasawat kembali Hermanus mengecek bidang kemudi pesawat untuk memastikan apakah setiap bidang kontrol pesawat dan beroperasi dengan baik. “Semua kontrol pada pasawat berfungsi dengan baik, pasawat siap untuk take off,” teriak Hermanus. Roni pun mengambil ancang ancang untuk melontarkan pasawat, Hermanus menaikan tuas trotel pada transmiter motor yang ada di pesawat berbunyi dan baling-baling berputar dengan kencang. “Lontar kakak Roni,” kata Hermanus memberikan aba-aba ke Roni. Dengan sigap Roni melontar pasawat, kini kendali pasawat ada di Hermanus Penuh selaku pilot. Dari kejauhan suara Mario terdengar. “Ketinggian 50, ketinggian 70 ketinggian 80 ketinggian 100,” ucap Mario sedikit berteriak memberikan informasi kepada rekannya Hermanus. Tak selang berapa lama Hermanus menanyakan arah mana yang dituju pesawat. “Mario kemana jalur awal terbang pasawat,” tanya Hermanus. “Ok kakak bawa ke kiri terus dalam hitungan mundur siap-siap kakak autokan. Tiga, dua , satu autokan kakak,” perintah Mario kepada Hermanus. Dari kejauhan suara Hermanus terdengar. “Mode,” tanya Hermanus. “Auto sudah kakak,” Balas Mario.

Pendampingan Monitoring yang diberikan kepada peserta pelatihan
Foto: Robbyebbor

Beberapa saat Hermanus memantau pergerakan pesawat ketika auto. “Pesawat stabil, baik Mario transmiter aku matikan,” Hermanus mengkonfirmasi ke Mario bahwa transmiter dimatikannya. Mario pun memberikan informasi  kepada Hermanus bahwa transmiter sudah tidak berfungi lagi. Kini pesawat tersebut bekerja secara otomatis sesuai jalur terbang yang sudah direncanakan. Mario dengan serius melihat di layar monitor pergerakan dan tingkah laku pesawat di udara. Jalur terbang yang direncakan Mario memakan waktu 1 jam dengan luasan area yang tercover 1000 ha.

Petakan Sawit Masyarakat dan Kenalkan WTA Kepada KUD

SIAR.OR.ID Ketapang  –  Pendataan dan pemetaan sawit masyarakat di Kabupaten Ketapang Kecamatan Air Upas dan Manis Mata masuk dalam tahap pendataan kepemilikan lahan. Pengambilan foto udara menggunakan fixed wing sudah dilakukan dengan hasil gambar resulusi tinggi. Dalam kegiatan pengambilan foto udara beberapa waktu lalu SIAR Nusantara menggandeng beberapa Koperasi Unit Desa (KUD) yang ada di kecamatan Air Upas dan Manis Mata.

Ketua Koperasi Unit Desa Yusuf Efendi menyambut baik kegiatan pemetaan dan pendataan yang dilakukan.Dia mengatakan, kegiatan ini sangat membantu masyarakat terkait wilayah kelola perkebunan sawit yang di kelola oleh Koperasi Unit Desa.

“ Kami menyambut baik kegiatan ini, apalagi kegiatan ini terkait perkebunan sawit masyarakat. Banyak sekali manfaat yang masyarakat dapatkan apabila kebunnya sudah ada peta, setidaknya masyarakat lebih merasa memiliki lahan, selain ada sertifikat, peta juga dapat memperkuat kepemilikan lahan kelolanya,” kata Yusuf.

Proses pemetaan dan pendataan menggunakan drone, selain untuk memenuhi syarat untuk pengajuan Surat Tanda Daftar Budidaya agenda lainnya adalah mengenalkan kepada masyarakat tentang teknologi dan pengetahuan dalam bidang pemetaan menggunakan drone yang dapat mengifesiensikan waktu dan biaya. Sehingga masyarakat yang ada di Kecamatan Air Upas dan Manis Mata lebih kenal dan bisa mengetahui teknologi dan perkembangan dalam bidang pemetaan wilayah.

Setidaknya ada 11 Koperasi Unit Desa (KUD) yang berada di Kecamatan Air Upas dan Manis Mata yang SIAR gandeng dalam kegiatan pemetaan dan pendataan kebun sawit masyarakat. Kedepannya data hasil pemetaan kebun mandiri masyarakat ini akan diserahkan ke pemilik lahan dan dinas perkebunan Kabupaten Ketapang. Hal ini lakakukan sebagai serpon keputusan Direktur Jendral Perkebunan No : 105/Kpts/PI 400/2/2018 Tentang Pedoman Penertiban Surat Tanda Daftar Usahan Perkebunan untuk Budidaya (STD-B) yang telah diatur oleh Kementrian Pertanian Republik Indonesia.

 

Peringatan Hari Hutan Sedunia, Apa Kabar Hutan Indonesia?

SIAR.OR.ID  Pontianak  –  Peringatan  Internasional Day of Forest merupakan salah satu bentuk komitmen dunia untuk menjaga hutan dan melindunginya dengan lestari. Bagi manusia, hutan memberikan peranan penting. Baik berupa ekonomi, budaya, pendidikan bahkan hal mistis sekalipun. Bagi masyarakat yang hidupnya bergantung dengan hutan sudah barang pasti segala kebutuhan tersedia di hutan. Air bersih, hewan serta tumbuhan lainnya yang tersedia dimanfaatkan masyarakat untuk melangsungkan hidupnya.

Hadirnya pemerintah dengan segala bentuk peraturan yang dibuat diharapkan dapat mengendalikan serta melestarikan fungsi hutan agar tidak dikuras secara brutal. Bukan sebaliknya, mengubah fungsi hutan menjadi perkebunan skala besar. Diperingata Internasional Day of Forest yang ke tujuh pada 21 Marat 2019 membuka mata sejauh mana pemerintah mempertahankan kawasan hutan yang ada agar tidak dibebani izin untuk perkebunan dan pertambangan. Serta, seberapa konsisten pemerintah Indonesia memberikan sumbangsi mengurangi perubahan iklim yang sudah terjadi.

Dengan jumlah tutupan hutan yang besar, tentu Indonesia mempunyai peran yang besar. Namun akhir-akhir ini hutan Indonesia menyusut drastis disebabkan terjadinya alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit skala besar. Data Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2015 menunjukan luas kawasan hutan Indoensia seluas 128 juta hektar. Dengan rincian, hutan konservasi seluas 27,4 juta hektar, hutan lindung seluas 29,7 juta hektar, hutan produksi terbatas 26,8 hektar, hutan produksi 29,3 juta hektar dan hutan yang bisa dikonversi seluas 12,9 juta hektar.

Selang dua tahun pada 2017 luas kawasan hutan Indonesia menyusut menjadi 125,9 juta hektar. kalau dirata-ratakan setiap tahunnya kawasan hutan Indonesia mengalami deforstasi sekitar 1 juta hektar. penyebabnya tak lain dikarenakan masifnya pembukaan kawasan hutan menjadi perkebunan dan pertambangan dengan alasan untuk mendongkrak perekomonian nasional dibidang perkebunan tanpa pikir panjang dampak dan konflik antara masyarakat yang terjadi.

Mudah-mudahan di momentum peringatan hari hutan sedunia ini tidak hanya menjadi ucapan serimonial. Peringatan hari hutan sedunia ini semoga menyadarkan kita akan pentingnya hutan bagi kehidupan semua makhluk dan senantiasa menjaga, melestarikan serta menafaatakan hutan sesuai dengan kebutuan tanpa harus merusknya.

2 Kecamatan di Ketapang, Sawit Masyarakatnya di Petakan

SIAR.OR.ID Ketapang –  Pendataan dan Pemetaan sawit masyarakat kembali dilakukan oleh SIAR Nusantara. Kali ini, pendataan dan pemetaan  dilakukan di Kabupetan Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat tepatnya di dua Kecamatan yakni Kecamatan Air Upas dan Manis Mata. Dari hasil pantauan dilapangan, sebaran sawit masyarakat cukup luas di dua Kecamatan tersebut. data yang sudah terambil total luasan yang SIAR petakan kurang lebih 20.000 ha belum keseluruhan sawit masyarakat yang ada di Kecamatan Air Upas dan Manis Mata.

Proses pendataan dan pemataan yang dilakukan ini merupakan salah satu langkah merespon keputusan Direktur Jendral Perkebunan No : 105/Kpts/PI 400/2/2018 Tentang Pedoman Penertiban Surat Tanda Daftar Usahan Perkebunan untuk Budidaya (STD-B) yang telah diatur oleh Kementrian Pertanian Republik Indonesia.

Dalam hal ini, peran dan fungsi Stakeholder sangat diperlukan dalam proses pedataan dan pemetaan kebun sawit masyarakat. Dalam melakukan pendataan dan pemetaan ini, kami menggadeng Pemerintahan Kabupaten Ketapang, yang mana ketika data perkebutan sawit masyarakat ini sudah mendapatkan Surat Tanda Daftar Usahan Perkebunan untuk Budidaya (STD-B) maka data sawit masyarakat akan menjadi data Kabupaten Ketapang.

Proses pertama untuk mendapatkan Surat Tanda Daftar Usahan Perkebunan untuk Budidaya (STD-B) sudah selesai dilakukan. Yakni pengambilan foto udara menggunakan Wahana Tanpa Awak (WTA), langkah selanjutnya adalah pendataan kepemilikan lahan perorangan dari hasil foto udara yang telah dijadikan peta. Setelah pendataan kepemilikan lahan selesai, tentu tindaklanjutnya kami serahkan ke pemerintahan Kabupaten Ketapang untuk mengesahkan  Surat Tanda Daftar Usahan Perkebunan untuk Budidaya (STD-B) untuk petani-petani sawit mandiri.

Teknologi WTA Mudahkan Pendataan Sawit Masyarakat

SIAR.OR.ID Kalimantan Timur – Pelatihan Pemanfaatan Wahana Tanpa Awak untuk Pemetaan Sawit Rakyat kembali digelar di Balikpapan Senin 17-21 Desember 2018. Kali ini KEHATI dan SIAR Nusantara memperkenalkan WTA kepada beberapa lembaga diantaranya adalah Sulawesi Community Foundation (SCF), Kawal Borneo Community Foundation (KBCF), Java Learning  Center (JAVLEC) dan Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS).

Dalam pelatihan ini, mereka dikenalkan dengan berbagai macam Wahana Tanpa Awak dan pemanfaatannya dalam dunia kerja, salah satunya adalah pendataan sawit masyarakat. Pemanfaatan WTA saat ini sangat mendukung dan memudahkan dalam kerja terutama pendataan, pemetaan dan monitoring kawasan.

Salah satu peserta pelatihan Saiful Anwar dari Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) mengatakan, dalam pemanfaatan Wahana Tanpa Awak ini sangat memudahkan dalam proses pendataan kebun-kebun petani yang ada di wilayah kami.

“Kedepannya kami berharap hasil dari pelatihan ini, kami dapat mengoprsikan WTA secara mandiri untuk mendata kebun-kebun petani”, kata Saiful.

Tak hanya Saiful, Herry peserta dari Kawal Borneo Community Foundation juga mengatakan, ketepatan, keakuratan serta efesiensi waktu juga dibutuhkan dalam pengambilan data suatu kawasan. Dalam hal ini WTA adalah salah satu teknologi untuk memudahkan dalam pekerjaan yang kami lakukan.

“Apalagi fokus pekerjaan kami adalah Perhutanan Sosial, tentu peta-peta yang akan kami hasilkan apabila mengambilannya menggunakan WTA akan lebih bagus dan lebih detail terkait kawasan hutan,” kata Herry.

Pelatihan yang berlangsung lima hari tersebut tidak hanya pengenalan dan pemafaatan Wahana Tanpa Awak saja, dalam tiga hari para instruktur memperkenalkan jenis-jenis WTA, komponen-komponen untuk membangun sebuah WTA serta oprasional dan standar keamanan dalam pemanfaatan dan penggunaan WTA. Dua hari berikutnya adalah latihan membuat flight plan dan praktik menerbangkan fixed wing langsung oleh peserta pelatihan.

Yulius salah satu instruktur pelatihan mengatan, peserta tak hanya dikenalkan dengan jenis dan pemanfaatan WTA  melainkan kami juga harus memastikan para peserta yang kami latih harus bisa menerbangkan dan membuat flight plan.

 

Pelatihan WTA untuk Petakan Sawit Masyarakat

SIAR.OR.ID Pekanbaru  –  Pelatihan Pemanfaatan Wahana Tanpa Awak (WTA) untuk Pemetaan Sawit Rakyat terlaksana di Pekanbaru pada 29-4 November 2018. SIAR Nusantara dipercaya oleh Yayasan KAHATI menjadi intruktur pada pelatihan ini. Peserta pada pelatihan ini adalah jajaran Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) wilayah Riau.

Proses dalam pelatihan ini dimulai dengan pengenalan jenis dan manfaat WTA itu sendiri, setelah peserta tahu jenis dan pemanfaatan WTA tahapan selanjutnya adalah pengenalan koponen-komponen yang terdapat pada WTA. Tak lupa regulasi dan aturan yang ditetapkan oleh mentri perhubungan terkait regulasi penggunaan WTA disampaikan juga kepada peserta pelatihan.

Sebelum memasuki sesi praktik lapangan, peserta diajak melakukan simulator, dalam tahap simulator ini, peserta akan terbiasa menggunakan transmiter terkait fungsinya ketika menerbangkan WTA.

Setalah rangkaian tersebut dilalui, praktik  lapangan menjadi hal penting. Peserta dibawa ke lapangan menerbangkan fixed wing untuk mengambil data foto udara. Sebelum ke pasawat misi kami menyiapak pasawat trainer untuk peserta terbangkan. Setalah berhasil menerbangkan pasawat trainer langusng kami pandu untuk menerbangkan pasawat misi Skywalker.

Dalam penerbangan Skywalker, dari Sembilan peserta kami membaginya menjadai tiga kelompok. Setiap kelompok akan membuat team yang terdiri dari Pilot, Teknisi dan Ground Control Station (GCS). Setalah semua unsur terpenuhi peserta pelatihan itu sendirilah yang menerbangkan dan mengambil data lapangan menggunakan WTA.

Imrialis salah satu peserta dalam pelatihan mengatakan, teknologi seperti ini sangat bermanfaat dan memudahkan pekerjaan. Kedepannya bukan tidak mungkin bagi kami APKASINDO Riau menggunakan teknologi seperti ini untuk memetakan sawit masyarakat.

Rangkain penerbangan dan pengambilan data selesai. Di hari terkahir pelatihan salah satu intsruktur memandu para peserta untuk mengola data penerbangan di aplikasi Argisoft Photo Scan yang fungsinya menjahit foto-foto udara tersebut menjadi sebuah hamparan dengan tingkat resolusi tinggi. Tahapan pengolahan data menjadi sesi terkahir dalam pelatihan Pemanfaatan WTA untuk Pemetaan Sawit Rakyat.

 

Petakan Hutan Adat di Klaso

SIAR.OR.ID Papua – Dalam kebijakan Reforma Agraria hutan adat masuk dalam perhutanan sosial. masyarakat adat tidak hanya mendapat akses pengelolaan, tetapi juga mendapat hak milik terhadap lahan dalam bentuk sertifikat. Hal ini dilakukan untuk memberikan kesempatan pada masyarakat agar memiliki, menguasai, menggunakan, dan memanfaatkan atas tanah dan hutan sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat termasuk juga masyarakat adat.

Terkait hal itu, SIAR Nusantara menurunkan tim pemetaan yang menggunakan Wahana Tanpa Awak (WTA) untuk mengambil foto udara beresolusi tinggi. Pemetaan hutan adat itu  dilakukan di hutan adat Marga MOI  Distrik Klaso Kabupaten Sorong Provinsi Papua Barat.

Luasan lahan yang dipetaan kurang lebih 15000 ha yang terdiri dari 7 desa diantaranta adalah Kampung Klaso, kampung Miskum, Kampung Siwis, Kampung Kalmugun, Kampung Sbaga, Kampung Klasik dan Kampung Malawili.

Hasil yang diharapkan kedepannya dengan adanya peta dengan hasil foto udara beresolusi tinggi ini dapat digunakan untuk mengakomodir kepentingan masayarak dalam penetapan kawasan adatnya. Karena hutan adat pengelolaanya berbasis masyarakat, maka hak yang diberikan akan relatif mencegah terjadinya penebangan liar (illegal logging) sebab masyarakat merasa memiliki dan tentu akan menjaganya.

Menuju Sawit Masyarakat Berlegalitas

SIAR.OR.ID Sumatra Utara  –  Pendataan dan pemetaan sawit rakyat kali ini tim SIAR Nusantara dan Auriga melakukan pengambilan gambar udara beresolusi tinggi di Desa Tomuan Holbung. Tomuan Holbung merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Bandar Pasir Mandoge, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara.

Akses jalan menuju desa ini sangat sulit, jalan berbatu dan tak rata menjadi kendala. Akses masuk ke desa ini harus melalui jalan perkebuna karet milik Aburizal Bakrie. Dengan kondisi jalan seperti itu, cukup memakan waktu untuk sampai ke desa Tomuan Holbung.

Pendataan dan pemetaan yang kami lakukan menggunakan Wahana Tanpa Awak (WTA) jenis fixed wing dengan hasil gambar udara beresolusi tinggi. Sekali terbang luasa wilayah yang dapat tercover kurang lebih 1700 ha.

Hasil dari pendataan dari pendataan sawit rakyat yang kami lakukan ini akan menjadi system database kepemilikan sawit yang dikelola oleh masyarakat. Kedepannya ligalitas sawit masyarakat akan lebih jelas bila Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) dikeluarkan oleh pemerintah.

untuk memulai itu, tentu kami akan meyediakan data dan peta terkait sebaran kepemilikan sawit masyarakat di seluruh Indonesai. identifikasi kepemilikan sawit rakyat untuk saat ini yang sudah kami kerjakan ada dibeberapa dibeberapa Provisi diantaranya Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sumatra Utara dan Papua.