Menuju Sawit Masyarakat Berlegalitas

SIAR.OR.ID Sumatra Utara  –  Pendataan dan pemetaan sawit rakyat kali tim SIAR Nusantara dan Auriga melakukan pengambilan gambar udara beresolusi tinggi di Desa Tomuan Holbung. Tomuan Holbung merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Bandar Pasir Mandoge, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara.

Akses jalan menuju desa ini sangat sulit, jalan berbatu dan tak rata menjadi kendala. Akses masuk ke desa ini harus melalui jalan perkebuna karet milik Aburizal Bakrie. Dengan kondisi jalan seperti itu, cukup memakan waktu untuk sampai ke desa Tomuan Holbung.

Pendataan dan pemetaan yang kami lakukan menggunakan Wahana Tanpa Awak (WTA) jenis fixed wing dengan hasil gambar udara beresolusi tinggi. Sekali terbang luasa wilayah yang dapat tercover kurang lebih 1700 ha.

Hasil dari pendataan dari pendataan sawit rakyat yang kami lakukan ini akan menjadi system database kepemilikan sawit yang dikelola oleh masyarakat. Kedepannya ligalitas sawit masyarakat akan lebih jelas bila Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) dikeluarkan oleh pemerintah.

untuk memulai itu, tentu kami akan meyediakan data dan peta terkait sebaran kepemilikan sawit masyarakat di seluruh Indonesai. identifikasi kepemilikan sawit rakyat untuk saat ini yang sudah kami kerjakan ada dibeberapa dibeberapa Provisi diantaranya Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sumatra Utara dan Papua.

BIG Mengatur Pedoman Teknis Ketelitian Peta Dasar

SIAR.OR.ID – Dengan keluarnya peraturan Kepala Badan Informasi Geospasial, penertiban peraturan per undang- undang standar spesifikasi teknis untuk mewujudkan ketelitian peta yang berdaya guna. Keluarnya peraturan kepala BIG ini mempertegas  Undang-Undang No 26 Tahun 2007 penataan ruang, Undang-undang No 4 Tahun 2011 Tentang Informasi Geospasial , menyusul lagi Peraturan  Pemerintah No 8 Tahun 2013 Tentang Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang dan Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 2014 pelaksana UU No 4 Tahun 2011 Tentang Informasi Geospasial kemudian keluar lagi Peraturan Presiden  No 94 Tahun 2011 Tentang Badan Informasi Geospasial.

Badan Informasi Geospasial memandang dalam penetapan peta dasar standar dan ketelitian suatu pedoman teknis sehingga menghasilkan perhitungan yang akurat, handal dan terpercaya serta dapat dipertanggungjawabkan dan dapat disepakati para pihak. Untuk mempertegas UU, PP, Perperes Kepala Badan Informasi Geospesial mengeluarkan peraturan dasar pedoman dan teknis ketelitian peta dasar. Dalam peraturan kepala BIG ini setidaknya ada beberapa pasal tentang pedoman teknis ketelitian peta dasar.

Pasal 1 menyebutkan peraturan kepala BIG yang mengatur pedoman teknis mengenai syarat dan ketentuan dalam standar dan ketelitian  peta dasar. Dalam pasal 2 menjelaskan maksud pasal 1 tentang syarat dan ketentuan dalam standar ketelitian peta dasar. Syarat dalam ketelitian geometri dan ketelitian abstrak/semantik.

Hal lain lebih lanjut, mengenai syarat dan ketentuan dalam standar ketelitian peta dasar sebagaimana dimaksud ayat 1 tercantum dalam lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari peraturan kepala BIG. Dalam peraturan kepala BIG menyebutkan bahwa pedoman teknis ketelitian peta dasar dimutahirkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi serta kemampuan nasional yang ada dengan menyesuaikan standar spesifikasi yang berlaku secara Nasioanl dan Internasional.

Untuk mendapatkan Peta Dasar yang teliti dan berdaya guna, ada beberapa istilah atau tahapan perencanaan yang harus dijalani ketika melakukan uji akurasi dalam menetukan peta. Tahapan itu diantaranya adalah Mean Square Error (RMSE), Circular Error 90% (CE90), Linnear Error 90% ( LE90), Error Matrix/Confasion matrix, Confidence Level 95% (CL95)

1. Mean Square Error (RMSE) adalah ketelitian peta dan nilai yang menggambarkan tingkat kesesuaian antara posisi dan atribut. Sebuah objek di peta dengan posisi dan atribut sebenarnya. Selain kesesuain antara posisi dan atribut hal lain adalah akar kaudarat dari rata-rata kaudrat selisih antara nilai koordinat data dan nilai koordinat dari sumber independent yang akuradinya lebih tinggi.

2. Circelur Error 90% (CE90) adalah ukuran ketelitian geometrik horizontal yg didefinisikan sebagai radius lingkaran yang menunjukan bahwa 90% kesalahan atau perbedaan posisi horizontal objek di peta dengan posisi yang dianggap sebenarnya tidak lebih besar dari radius tersebut.

3. Linnear Error 90% ( LE90) adalah ukuran ketelitian geometrik vertikal ( ketinggian) yaitu nilai jarak yang menunjukan bahwa 90% kesalahan atau perbedaan nilai ketinggian objek di peta dengan nilai ketinggian sebenarnya tidak lebih besar dari pada nilai jarak tersebut.

4. Error Matrix/Confasion matrix adalah penelitian akurasi menggunakan suatu matrix kontingensi yaitu sebuah matrix bujur sangkar yang memuat hubungan antara sampel terklarifikasi dan hasil uji lapangan (Ground Truth). Ketelitian keseluruhan (Overall Accuracy)  adalah perbandingan  jumlah total sampel hasil klarifikasi dengan jumlah sampel referensi.

5. Confidence Level 95% (CL95) adalah ukuran ketentuan geometrik horizontal dan vertikal yang didefinisikan sebagai nilai probalitas dimana nilai sebenarnya dari pengukuran akan terletak dalam tingkat kepercayaan 95% yang tergantung pada distribusi statistik yang diasumsikan dari data dan hitungan secara berbeda untuk kualitas 1 dimensi dan 2 dimensi.

Ketentuan peta dasar meliputi ketelitian geometri adalah nilai yang menggambarkan ketidakpastian koordinat posisi suatu objek pada peta dibandingkan dengan koordinat posisi objek yang dianggap posisi sebenarnya. Kompenen ketelitian giometri, terdiri atas akurasi horizontal dan akurasi verikal.
Ketelitian  atribut/semantik adalah nilai yang menggambarkan tingkat kesesuaian atribut antara suatu objek di peta dengan Dengan atribut sebenarnya. Ketelitian geometri peta dasar menurut UU No 4 Tahun 2011 Tentang Informasi Geospesial Peta Dasar Terdiri atas
1. Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI)
2. Peta Lingkungan Pantai Indonesia( LPI)
3. Peta Lingkungan Laut Indonesia (LLH)

Dalam peraturan kepala BIG menyebutkan bahwa pedoman teknis ketelitian peta dasar dimutahirkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi serta kempuan nasional yang ada dengan menyesuaikan standar spesifikasi yang berlaku secara Nasional dan Internasional. Untuk menjawab perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi tersebut Badan Informasi Geospesial menggandeng SIAR Nusantara untuk melakukan Uji Akurasi Peta Dasar dengan pemanfaatan Wahana Tanpa Awak (WTA). Tahapan dalam uji akurasi ini tentu menggunakan metode yang sesuai dengan Peraturan Kepala Badan Informasi Geospesial No 15 Tahun 2014 Tentang Pedoman Teknis Ketelitian Peta Dasar.

Uji Akurasi telah dilaksanakan di Berau, Provinsi Kalimantan Timur beberapa waktu lalu. Untuk saat ini Tim uji akurasi sedang menyesuaikan data yang di dapat dari lapangan untuk menentukan tingkat berhasilan dan berapa jumlah error dari hasil tersebut. Setalah data uji akurasi selesai di olah tim SIAR dan BIG akan mempubliksi hasil itu dengan bentuk Jurnal Uji Akurasi menggunakan Wahana Tanpa Awak (WTA).

Gunung Ambawang Sumber Air Bersih Masyarakat

SIAR.OR.ID Desa Ambawang, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya Provinsi Kalimantan Barat memiliki potensi suber daya alam yang berkelanjutan. Pasalnya, dikawasan Desa Ambawang tertancap kokoh gunung Ambawang yang sampai saat ini kelestariannya masih terjaga.

Beberapa waktu lalu tim SIAR Nusatara melakukan pemetaan di kawasan gunung Ambawang. Pemetaan ini diinisiasi oleh Bentang Kalimantan salah satu lembaga pendamping masyarakat dalam pendorong program Perhutanan Sosial. Potensi sumber daya alam yang terdapat di gunung Ambawang masih dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Salah satunya adalah air bersih.

Saril salah Tokoh masyarakat bercerita bahwa proteksi terhadap kawasan Gunung Ambawang akan terus dilestarikan. “ Gunung ini menjadi salah satu tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat. Bahkan ritual adat masih sering dilakukan di gunung tersebut,” Kata Saril.

Saril mengakui banyak sekali manfaat yang mereka terima ketika bersabat dengan hutan. Salah satunya terpenuhinya sumber air yang dapat di rasakan. Bahkan di Desa Ambawang sudah ada dua Embung penampung air bersih yang akan segara di distribusikan untuk masyarakat setempat.

 

 

 

 

Training Pengoprasian WTA Bersama ICCTF.

Jakarta, siar.or.id –  Sebagai lembaga non pemerintah yang bergerak dalam upaya mewujudkan keadilan dalam penguasaan ruang untuk kelestarian ekosistem yang selaras dengan kesejahtraan masyarakat. SIAR juga fokus pada pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dibidang pemetaan, survey, fotogrametri dan AUV/AUS.

Sementara itu, baru- baru ini Tim SIAR dalam beberapa hari memfasilitasi ICCTF dalam pengoprasian Wahana Tanpa Awak (WTA) di Jakarta.

Angga Rizky Ananta selaku Direktur Eksekutif SIAR mengatakan, pelatihan ini merupakan langkah awal dalam mengenal kompenen-komponen dan cara pengoprasian WTA.

” Penyedian pelatihan ini dalam rangka menitoring dan evaluasi proyek”, kata Angga.

Aktivitas pemenfaatan teknologi di bidang pemetaan, menitoring sudah SIAR geluti sejak 2013. Setidaknya sudah 9 Provinsi di Indonesia yang sudah SIAR fasilitasi dalam pengembangan SDM dan perakitan WTA.

26 Ribu Hektar Sawit Mayarakat di Petakan di Dua Desa

Kalimantan Tengah, siar.or.id – Maraknya perkebunan sawit tentu  menjadi daya tarik ekonomi  di bidang perkebunan. Apalagi banyak konsesi perkebunan sawit secara langsung mau pun tak langsung berdampingan dengan pemukiman masyarakat. Tentu, sebagain masyarakat yang  mempunyai tanah akan bermitra dengan pihak perusahaan atau pun kalau tidak bermitra masyarakat akan membuka lahan sawit sendiri dan hasil panennya akan dijual ke perusahaan atau pengepul  lainnya.

Setalah peraturan presiden No 66 Tahun 2018 tentang Kepemilikan tanah di dalam  kawasan hutan akan di lakukan dengan Sekema Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) Maka sawit-sawit masyarakat yang masuk dalam kawasan hutan akan di ajukan dalam skama TORA dan akan didorong agar masyarakat mendapatkan Sertifikat Kepemilikan dan Budidaya.

Untuk bahan pengajuan tersebut langkah awal yang kami lakukan adalah dengan melakukan pemetaan di kedua Desa yaitu desa Paranggean dan desa Mekar Jaya di Provinsi Kalimantan Tengah yang mana pemetaan ini sudah barang tentu akan terlihat pola penggunaan lahan.

Di pola penggunaan lahan ini lah akan tergambar keadaan  ekonomi, budaya dan pendidikan masyarakat. Pemetaan yang kami lakukan dengan memanfaatkan teknologi yang sedang berkembang yaitu mengambil gambar udara menggunakan Pasawat Tanpa Awak (Drone) dengan hasil gambar udara beresolusi tinggi sehingga peta yang dihasilkan nantinya akan lebih detail. Adapun luasan lahan yang kami petakan untuk desa Paranggean seluas 9 ribu hektar Sedangkan Desa Mekar Jaya seluas 17 ribu Haktar masing-masing adalah perkebunan sawit masyarakat.

 

 

Menuju Pengelolaan Sawit yang Bekelanjutan dan Ramah Lingkungan

Basitang, Sumantra Utara, siar.or.id – Keberadaan sawit masyarakat tak bisa dipandang sebelah mata. Walaupun luasan wilayah kelolanya lebih besar dari wilayah kekola perusahaan, namun hak-hak dan legalitas perkebunan sawit masyarakat harus diperhatikan oleh pemerintah.

Auriga dan SIAR dalam ini melakukan pendataan dan memetakan  terhadap perkebunan sawit masyarakat agar kedepannya perkebunan sawit masyarakat mendapat surat tanda daftar budidaya. Setidaknya sudah beberapa wilayah di Indonesia yang sudah dilakukan pendataan dan pemetaan yang dilakukan oleh tim pemetaan Auriga dan SIAR. Disemua wilayah proyek pemetaan yang dilakukan menggunakan drone dengan hasil gambar udara beresolusi tinggi

Direktur Eksekutif SIAR Nusantara  Erlangga Rizki Ananta megatakan, kami membantu masyarakat untuk mengidentifikasi tanah dan perkebunan kelapa sawit mereka.

“Aktivitas ini menghasilkan data spasial perkebunan kelapa sawit yang terintegrasi dengan status kepemilikan dalam data atribut itu sendiri,” kata Angga.

Tujuan dari itu semua lanjut Angga adalah untuk pendapatkan perkebunan kelapa sawit masyarakat bersertifikat dan kami akan mendorong PEMDA agar memberikan Surat Tanda Dafrar Budidaya (STDB).

“Dengan upaya seperti  ini, kami mencoba mendorong agar perkebunan kelapa sawit dilakukan dengan praktik berkelanjutan dan menghormati lingkungan,” kata Angga.

Dorong Penyelesaian Sawit dalam Kawasan Hutan

Berau, siar.or.id – Dengan hadirnya perkebunan sawit  dalam kawasan hutan atau kawasan yang bernilai ekosistem penting mengakibatkan terjadinya tata kelola hutan yang tidak berkelanjutan. Dalam hal ini perlulah kiranya pengidentifikasian terhadap perkebunan kelapa sawit yang berada dalam kawasan hutan, baik itu sawit milik perusahaan atau pun sawit milik masyarakat. Untuk sawit rakyat skema TORA (Tanah Objek Reforma Agraria) dapat diusulkan. Hal itu akan menjadi sebuah legalitas bagi petani sawit.

Dalam hal ini Auriga bekerjasam dengan SIAR Nusatara melakukan pemetaan terhadap sawit rakyat yang terletak di Desa Tepian Buah, Kecamatan Segah, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur.

Jipra Evan Gunawan selaku Deputi  SIAR mengatakan, sebelum melakukan pemetaan kawasan sawit masyarakat, langkah awal yang dilakukan adalah melakukan koordinasi dengan pihak Jaflek.

“Setelah melakukan koordinasi dengan Jaflek, tim pemetaan mengadakan pertemuan degan pihak desa dan tokoh masyarakat setempat untuk membicarakan lokasi pemetaan dan membahas potensi desa yang dapat dikembangkan,” kata Jibra bercerita.

Adapun tujuan dari pemetaan ini adalah Pengambilan gambar dengan menggunakan Drone di wilayah Administrasi Desa Tepian Buah, Kecamatan Segah, Kabupaten Berau, hal itu dilakukan untuk mengidentifikasi wilayah-wilayah yang dimanfaatkan sebagai perkebunan sawit oleh masyarakat.

Jipra menjelaskan, pemetaan setiap lahan sawit dilakukan bersama  masyarakat dengan menggunakan GPS untuk menitik lokasi berdasarkan setiap kepemilikan, setealah itu pendalaman informasi terkait dengan kepemilikan di masing-masing lahan sawit yang telah dipetakan.

Hasil yang diharapkan dalam kegiatan di Desa Tepian Buah, Kecamatan Segah, Kabupaten Berau adalah tersedianya peta lokasi keberadaan sawit di kawasan hutan pada Desa Tepian Buah. Teridentifikasinya lokasi-lokasi sawit masyarakat yang berada di wilayah Desa Tepian Buah, kedepannya akan ada data atribut kepemilikan lokasi-lokasi sawit masyarakat yang berhasil diidentifikasi.

Tentu hal yang dilakukan ini adalah  tindak lanjut dalam menyelesaikan permasalahan lahan sawit yang berada di dalam kawasan hutan dan sejalan dengan instrumen tata kelola lahan pada Peraturan Presiden Nomor 88 Tahun 2017 tentang Penyelesaian Penguasaan Tanah dalam Kawasan Hutan. Dan skema TORA dalam hal ini tentu menjadi solusi bagi masyarakat. (Fathul Birri)

Menyediakan Kelengkapan Data Sawit Rakyat, SIAR Lakukan Identifikasi dan Pemetaan

Aceh, siar.or.id – Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpes)  No 88 Tahun 2017 tentang “ Penyelesaian Penguasaan Tanah dalam Kawasan Hutan”. Tim pemetaan SIAR Nusantara turun ke beberapa wilayah Indonesi untuk melakukan identifikasi dan mendata lahan sawit rakyat yang berada di kawasan hutan dengan menggunakan Wahana Tampa Awak (WTA).

Dalam pendataan dan pemetaan sawit rakyat ini setidaknya ada tiga desa dalam tiga provinsi yang menjadi fokus tim SIAR Nusatara. Tiga desa dalam tiga provinsi tersebut yakni : Desa Alur Bening, Kecamatan Babul, Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh. Desa Tepian Buah, Kecamatan Sagah, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur dan satu Desa terpilih di Kecamatan Besitang, Kabupaten  Langkat, Provinsi Sumatera Utara.

Yulius selaku Operator Dron SIAR Nusantara yang melakukan pendataan dan pemetaan di Desa Alur Baning,  Kecamatan Babul, Kabupaten Aceh Tenggara  mengatakan, luasan lahan yang dipetakan yakni seluas 6000 hektar.

“ Dengan luasan lahan 6000 hekatar tersebut kami mencoba menentukan estimasi perbangan selama tiga hari. Namun ada beberapa kendala sehingga estimasi penerbangan kami menjadi seminggu”, kata Yulius.

Kendala tersebut sambung Yulius, dikarenakan kawasan yang dipetakan adalah berbukitan sehingga perlu kesabaran dan kehati-hatian dalam mensetting dron agar hasil gambar yang didapat dalam penerbangan bagus dan beresolusi tinggi.

Pendataan dan pemetaan sawit rakyat mengapa menjadi penting dilakukan, tujuannya adalah agar tercipta sistem registrasi sawit rakyat atau yang lebih dikenal dengan Surat Tanda Daftar Budidaya ( STBD).

Erlangga Rizki Ananta Selaku Direktur SIAR Nusantara mengatakan, identifikasi dan pemetaan sawit rakyat yang kita lakukan adalah untuk menyediakan kelengkapan data terhadap status kepemilikan sawit oleh masyarakat.

“Metodelogi yang kita gunakan dalam mengidentifikasi sawit rakyat ini adalah dengan menggunakan Pasawat Tampa Awak (WTA) untuk mendapatkan citra satelit beresolusi tinggi dengan menggunakan foto udara. Sehingga data detail tersebut untuk mengidentifikasi lokasi-lokasi atau kepemilikan areal sawit rakyat tersebut. walau pun menggunakan teknologi nilai partisipatif tetap dilakukan agar masyarakat mengetahui ruang dan wilayahnya”, kata Angga yang sekaligus menjabat sebagai Litbang Auriga Nusantara.

Umumnya dalam satu kali penerbangan lanjut Angga kita bisa mengcover 1500 sampai 1800 hektar dengan resolusi 15 cm per picsel. Dengan lama terbang tergantung dengan kondisi cuacanya. “Biasanya lama penerbangan satu sampai satu jam setengah”, jelas Angga.

Berdasarkan data Ditjenbun 2017 secara statistik luasan sawit rakyat adalah 4,8 juta hektar dari total 12,3 juta hektar sawit Indonesia. Tapi, tidak tersedia data detail yang kredibel mengenai sawit rakyat. Maka dari itu, diharapkan dengan mengindetifkasi  dan melakukan pemetaan data detail luasan sawit rakyat dapat diketahui. (Fathul Birri)