Luas Tutupan Hutan Berkurang dan Laju Deforestasi di Kabupaten Landak

Sejak tahun 1990 hingga 2018 luas tutupan hutan alam di kabupaten Landak, Kalimantan Barat menunjukan tren yang terus menurun. Pada tahun 1990 Kabupaten Landak memiliki tutupan hutan seluas 188,792 ha atau sekitar 23 % dari wilayah kabupaten. Luas hutan terus menurun di tahun 2000, proporsi tutupan hutan terhadap luas kabupaten menjadi sekitar 21 % dan terus menurun di tahun 2011 menjadi 17 %.  Hingga tahun 2018 tersisa sekitar 11 % tutupan hutan yang mengcover wilayah kabupaten Landak. Dalam tiga dekade terakhir lebih dari setengah luas hutan alam di kab. Landak hilang dan berubah wajah, di tahun 2018 hanya sekitar 90,703 ha hutan alam tersisa.

Foto: Perkebunan kelapa sawit yang bergandengan dengan cagar alam di Mandor

Berdasarkan luasan tersebut, pada tahun 2018 sebaran hutan alam lebih banyak berada di kawasan hutan. Sekitar 82 %  atau seluas 74.009 ha tutupan hutan alam berada di kawasan hutan dan 18 % sisanya seluas 16.694 ha berada di luar kawasan hutan (areal penggunaan lain/APL). Di kawasan hutan, berdasarkan fungsinya hutan alam terluas berada di kawasan suaka alam dengan peruntukan cagar alam yaitu seluas 37.743 ha atau 42 % dari total luas hutan alam di kab. Landak. Hutan lindung (HL) merupakan kawasan hutan dengan tutupan hutan terluas kedua yaitu 19.793 ha atau (22%), diikuti hutan produksi tetap seluas 14.671 ha (16%) dan hutan produksi terbatas seluas 1.802 ha

Berbanding terbalik dengan tren tutupan hutan, luas perkebunan sawit di kab. Landak menunjukan tren yang terus naik setiap tahun. Angka luas perkebunan sawit tercatat seluas 22.161 ha di tahun 2000 dan terus naik hingga tahun 2018 seluas 106.352 ha. Hampir 80 persen atau seluas ekspansi perkebunan sawit terjadi setelah tahun 2000. Di tahun 2000-2015 tutupan hutan alam masih lebih luas dibanding perkebunan sawit, namun sejak tahun 2016, seiring dengan cepatnya ekspansi perkebunan sawit dan semakin berkurangnya luas hutan menjadikan perkebunan sawit lebih luas dari hutan alam.

Laju deforestasi 1990 – 2018 di Kabupaten Landak

Sejak tahun 1990 sampai dengan 2018 telah terjadi deforestasi seluas 100.806 ha di kab. Landak, Kalimantan Barat. Dalam tiga dekade terakhir, deforestasi pada periode 2011-2018 menjadi yang tertinggi diantara dua periode sebelumnya yaitu seluas 49.396 ha atau sekitar 49 % dari total luas deforestasi. Sementara tahun 2000-2011 menjadi periode dengan angka deforestasi tertinggi kedua dengan luas deforestasi mencapai 36.697 ha atau sekitar 36 %. Tahun 1990-2000 menjadi periode dengan angka deforestasi terendah yaitu seluas 14.713 ha atau sekitar 14 %.

Tren laju deforestasi secara keseluruhan menunjukan adanya empat titik puncak dalam 3 dekade. Masing-masing satu titik puncak terjadi di periode 1990-2000 (periode 1) dan 2000-2011 (periode 2), sementara dua titik puncak terjadi di periode 2011-2018 (periode 3). Pada periode 1 puncak deforestasi terjadi antara 1990-1996 yaitu seluas 10.857 ha, kemudian turun menjadi 3.856 ha di tahun 1996-2000. Selanjutnya di periode 2, puncak deforestasi terjadi antara tahun 2006-2009 yaitu seluas 15,392 ha. Angka ini naik dari tahun sebelumnya yaitu tahun 2003-2006 dan 2000-2003 masing-masing 1.998 ha dan 9.527 ha dan turun di tahun 2009-2011 seluas 9.780 ha. Angka pucak deforestasi pada periode 2 lebih besar dibanding total deforestasi periode 1 dan terjadi peningkatan dua kali lipat total deforestasi di periode 2 dibanding periode 1.

menjadi puncak tertinggi kejadian deforestasi dalam 3 dekade terakhir antara tahun 2012-2013 seluas 18.456 ha. Selanjutnya angka deforestasi turun di tahun 2013-2014 menjadi 1.092 ha, kemudian kembali naik di tahun 2014-2015 seluas 7.633 ha dan terus naik mencapai puncak kedua seluas 8.140 ha di 2015-2016 dan kembali turun di 2016-2017 menjadi 2.775 ha. Total deforestasi di periode 3 naik menjadi 3 kali lipat dibanding periode 1 dan sekaligus menjadi periode dengan total deforestasi tertinggi diantara 2 periode sebelumnya.

Deforestasi dan Ekspansi Sawit

Ekspansi perkebunan sawit dimulai sejak tahun 2008 dengan laju ekspansi yang terus naik setiap tahun hingga puncaknya di tahun 2011 dan mulai turun di tahun-tahun beriutnya. Dalam 10 tahun terakhir (2008-2018) ekpansi perkebunan sawit menyumbang sebanyak 46 persen dari total deforestasi . Tertinggi di tahun 2011, dari total ekspansi sawit di tahun ini, sebanyak 70 persennya berasal dari penebangan hutan alam. 

 

Konflik Tenorial Desa Sobo, SIAR Siapkan Data Spasial

Aerial mapping dan integrasi data sosial pada penelitian yang dilakukan oleh 2 orang dari  SIAR yang didukung oleh GIZ diterapkan untuk mendapatkan data dan analisis spasial mengenai gambaran wilayah Desa Sobo secara lebih terperinci dan menyeluruh.  Melalui desain penelitian yang telah dirumuskan akan dianalisis tutupan lahan, sebaran indikatif Sertifikat Hak Milik (SHM), lahan garapan masyarakat pemegang SHM tersebut, serta potensi hamparan lahan untuk skema pengakuan hak kelola masyarakat.

Peta administrasi Sobo

 

Proses akuisisi data untuk pemetaan wilayah Desa Sobo dalam analisis konflik tenurial Desa Sobo Kecamatan Munjungan Kabupaten Trenggalek Provinsi Jawa Timur dilaksanakan selama 15 hari. Proses tersebut dibagi menjadi beberapa tahapan yaitu sosialisasi kegiatan ke masyarakat, akuisisi data menggunakan WTA(Wahana Tanpa Awak), Pengukuran dan verifikasi  lapangan menggunakan GPS, serta proses deliniasi dan integrasi data melalui focus group discussion bersama masyarakat Desa Sobo.

 

 

Dalam kajian GN SDA – KPK yang dipublikasi pada 20 April 2016, KPK menemukan bahwa konflik lahan di KPH Kediri tepatnya di Desa Sobo, Desa Bogoran, Desa Watuagung, di Kabupaten Trenggalek memiliki potensi untuk diselesaikan dengan mengedepankan pemenuhan hak warga dalam mengelola dan mengakses hutan sekaligus memastikan berkurangnya laju deforestasi.

Peta sebaran indikatif SHM

 

Setidaknya ada 149 lembar SHM yang dimiliki oleh warga ketiga desa yang lokasinya diklaim sebagai wilayah hutan negara.   Di Desa Sobo sendiri ada 77 SHM dengan rincian 30 SHM di wilayah GG seluas 8,935 Ha dan 47 SHM dengan luas 35 ha berada di luar GG.  Total luas SHM yang dimiliki warga Sobo adalah yang terbesar jika dibandingkan dua desa yang lain. Pemegang SHM yang berasal dari Desa Sobo mengelola lahannya dengan bertanam cengkeh, dengan rata-rata penjualan pertahun mencapai 150-200 ton cengkeh kering atau senilai 18 miliar rupiah (tahun 2016).  Pembagian hasil penjualan 60% diperuntukkan untuk petani.  

 

Berdasarkan pertimbangan dua hal tersebut di atas, KPK telah mendorong pelaksanaan resolusi konflik di Desa Sobo dengan memfasilitasi berbagai studi dan berujung pada ditandatangninya surat kesepakatan penyelesaian konflik pada 3 Desember 2019.  Turut bertandatangan dalam kesepakatan tersebut adalah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), KATR/BPN, Perhutani, Bupati Trenggalek, KPK dan Masyarakat Desa Sobo. 

Adapun kesimpulan penyelesaian konflik tenurial yang tertuang dalam kesepakatan adalah

1. Pelepasan hak masyarakat dilakukan setelah diperolehnya SK IPPHS/KULIN-KK (yang akan melibatkan masyarakat) dengan proses yang formal dan terbuka bagi seluruh masyarakat

2. Mempercepat proses inventarisasi subyek dan obyek lahan garapan masyarakat di Desa Sobo untuk IPPHS/KULIN-KK yang dikoordinir oleh Pemkab Trenggalek.

3.  KLHK menyiapkan SK IPPHS/KULIN-KK;

4.  ATR/BPN akan menyiapkan pelepasan hak.

5.  Menyusun timeframe pertemuan multipihak; (6) Semua proses diatas diharapkan sudah selesai pada Desember 2019.

 

FOREST AND LAND FIRE CRISIS IN WEST KALIMANTAN

Terhitung sejak agustus hingga september 2019 Kalimantan barat di selimuti kabut asap yang begitu pekat. Kebakaran hutan dan lahan menjadi penyebab utamanya.

Kabut asap tidak hanya berdampak buruk bagi kelangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lainnya, tetapi juga berdampak pada berbagai sektor lainnya seperti pendidikan, sosial dan ekonomi masyarakat.
Berdasarkan analisis sebaran hotspot yang dilakukan oleh SIAR menggunakan data pantauan satelit NASA MODIS(1km) dan VIIRS(375m), puncaknya pada tanggal 20 september 2019, terdeteksi 733 titik panas (hotspot) yang tersebar di seluruh kalimantan barat.

Dari total sebaran hotspot tersebut, 300 titik merupakan hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (Confidence >79%) yang terindikasi sebagai Titik api. Titik panas dengan kepercayaan tinggi tersebut tersebar di 8 dari 14 kabupaten/kota di KALBAR.

Ketapang merupakan kabupaten dengan sebaran hotspot terbanyak dengan 241 hotspot, kemudian disusul Kayong utara 22 hotspot, Sintang, 11 hotspot, Melawi 11 hotspot, Kubu Raya 7 hotspot, Sambas 2 hotspot, Landak dan Sekadau dengan masing-masing 1 hotspot.

Analisis sebaran titik api tersebut dengan perizinan industri ekstraktif di KALBAR menunjukan 80 titik api berada di wilayah Perkebunan Sawit, 56 titik pada konsesi Hutan Tanaman Industri(Pulp and paper) dan 24 titik pada konsesi IUPHHK-HA(HPH).
Siapakah yang bertanggung jawab dan akankan ini terus berlanjut tahun ke tahunnya?

Tingkatkan Kapasitas Organisasi Perangkat Daerah dalam Pengoperasian Drone, GIZ Kaltim Gandeng SIAR

Dalam beberapa tahun terakhir, pemanfaatan Wahana Tanpa Awak (WTA) atau yang sering dikenal dengan nama Drone tidak lagi hanya didominasi untuk kepentingan pertahanan, komersil maupun sekedar hobi mengabadikan momen tertentu dari udara. Drone saat ini mulai dimanfaatkan untuk kepentingan perencanaan dan monitoring berbagai sektor seperti hutan, kebun, minerba, kelautan, tata ruang. Khususnya untuk survei dan pemetaan, drone menjadi salah satu alternatif karena mampu menghasilkan data yang aktual, cepat dan akurat.  

Untuk mengembangkan dan memperluas pengetahuan pengoprsian serta melakukan pemetaan dan monitoring kawasan berbantuan Wahana Tanpa Awak (WTA) Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit GmbH (GIZ) melaksanakan pelatihan Pemetaan dan Pemantauan Tutupan Lahan Menggunakan Teknologi Drone di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur yang berlangsung dari 19-23 Agustus 2019.

Proses pengenalan WTA jenis Fixed wing kepada peserta pelatihan
Foto: Eriz

Penyelenggara kegiatan ini adalah GIZ bekerjasama dengan Pemerintahan Kabupaten Berau dan dibantu oleh SIAR sebagai mitra pengembangan dan instuktur pelatihan.

Iwied Wahyulianto selaku tim GIZ Berau mengatakan, tujuan kegiatan ini adalah untuk mendukung Pemerintah Kabupaten Berau dengan meningkatkan kapasitas anggota Satgas Informasi Geospasial (GTIG) dan organisasi masyarakat sipil yang bertanggung jawab atas tugas-tugas terkait perubahan penggunaan lahan dan perencanaan pengembangan perkebunan untuk dapat menghasilkan peta tutupan lahan menggunakan teknologi drone.

“ GIZ bekerjasama dengan pemerintah Kabupaten Berau dalam kesempatan ini kita memanfaatkan drone untuk monitoring berubahan tutupan lahan, sehingga aparatur pemerintah terutama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dapat menantau perubahan tutupan lahan yang terjadi di Kabupaten Berau,” kata Iwied.

Peserta pelatihan mengoprasikan WTA jenis Fixed wing yang dipandu langsung oleh instruktur
Foto: Eriz

Hasil yang diharapkan dari pelatihan ini lanjut Iwied adalah memahami konsep pengumpulan data dengan menggunakan teknologi drone termasuk gambaran dasar tentang UAV / drone, merinci komponen peralatan, bimbingan teknis dan latihan pengumpulan data lapangan termasuk bagaimana merencanakan rute penerbangan, pilot otomatis, memproses data lapangan yang dikumpulkan untuk analisis lebih lanjut, bimbingan teknis dan latihan analisis data RAW untuk beberapa tujuan seperti penghitungan pohon, pemantauan area perkebunan, bidang tanah dan menampilkan dan menyusun peta untuk menghasilkan informasi suatu lahan.

Sementara itu, Direktur SIAR Nusantara Erlangga Rezky Ananta mengatakan, Pemetaan menggunakan WTA/Drone dapat menghasilkan hingga 5000 hektar dalam satu hari kerja, pada resolusi sangat tinggi 10cm/pixel. Sedangkan untuk kegiatan pemantauan WTA/Drone dapat diterbangkan untuk melakukan dokumentasi dan verifikasi wilayah dengan total perjalanan hingga 70km. WTA/Drone merupakakan salah satu alat yang dapat membantu mempermudah dan meningkatkan efektivitas kegiatan pemetaan dan pemantauan, baik dari segi waktu, biaya, dan tenaga yang dikeluarkan.

pengoprasain WTA jenis Fixed wing yang dilakukan oleh peserta pelatihan.
Foto: Eriz

“Dengan keunggulan tersebut, teknologi WTA/drone bisa dijadikan alternatif solusi untuk monitoring perubahan tutupan lahan. Tantangannya adalah masih terbatasnya sumberdaya manusia dalam penerapan teknologi ini dan sejauh mana masyarakat dapat terlibat,” kata Erlangga.

Pedoman Penertiban STD-B

Kementrian Pertanian Direktorat Jendral  Perkebunan Mengeluarkan keputusan tentang Pedoman Penertiban Surat Tanda Daftar Usaha Perkebunan untuk Budidaya (STD-B) dengan No 105/Kpts/Pi.400/2/2018. Dalam keputusan ini sebagai bentuk penegasan terkait Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 98/Permentan/OT. 140/9/ 2013 tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 21/Permentan/ KB.410/6/2017, usaha budidaya tanaman perkebunan dengan luas kurang dari 25 (dua puluh lima) hektar dilakukan pendaftaran oleh bupati/walikota.

Pendataan tersebut dalam rangka penyeragaman bentuk dan tatacara pelaksanaan pendaftaran usaha budidaya tanaman perkebunan oleh bupati/walikota perlu disusun pedoman penerbitan surat tanda daftar usaha perkebunan untuk budidaya (STD-B) dengan Keputusan Direktur Jenderal Perkebunan. Adapun yang melatar belakangi keluarnya keputusan tentang Pedoman Penertiban Surat Tanda Daftar Usaha Perkebunan untuk Budidaya (STD-B) dengan No 105/Kpts/Pi.400/2/2018 adalah Rekomendasi kegiatan Koordinasi dan Supervisi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Sektor Perkebunan Sawit dan Kajian Sistem Pengelolaan Komoditas Perkebunan Kelapa Sawit untuk mempercepat inventarisasi data Pekebun dan mempercepat proses surat tanda daftar usaha perkebunan untuk budidaya (STD-B).

Peta foto udara perkebunan sawit masyarakat di Kab Ketapang. Kec Air Upas dan Manis Mata

Perkebunan yang merupakan salah satu sub sektor dari kegiatan pertanian yang mempunyai peranan penting dan strategis dalam pembangunan nasional. Dalam penyelenggaraan perkebunan berbagai tujuan yang akan dicapai antara lain untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, meningkatkan sumber devisa negara, menyediakan lapangan kerja dan kesempatan usaha serta menjaga fungsi lingkungan hidup secara berkelanjutan.

Pada saat ini luas seluruh areal perkebunan di Indonesia mencakup 23,8 juta ha (statistik perkebunan angka tetap tahun 2015), dan sekitar 42% di antaranya merupakan usaha yang dilakukan oleh para Pekebun dengan luas areal kurang dari 25 hektar. Keberadaan Pekebun tersebut belum teridentifikasi secara komprehensif sesuai dengan data faktual, sehingga perlu mendapatkan perhatian pembinaan, antara lain melalui konsolidasi data dan registrasi.

Untuk memperoleh data tentang areal yang diusahakan oleh Pekebun yang luasnya kurang dari 25 ha, sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian No. 98/Permentan/OT. 140/9/2013 tanggal 30 September 2013 tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan, sesuai ketentuan pasal 5 dilakukan pendaftaran oleh bupati/walikota.

Pendaftaran Pekebun tidak termasuk kegiatan perizinan usaha, namun demikian bupati/walikota atau pejabat yang ditunjuk melakukan pendaftaran usaha di wilayah kerjanya mempunyai tanggung jawab untuk mengetahui status, tingkat produktivitas, kepemilikan tanah, data teknis kebun dan berbagai informasi penting lainnya sesuai lampiran I Peraturan Menteri Pertanian yang bersangkutan. Beberapa Pemerintah Daerah sudah melakukan upaya untuk mengkonsolidasikan data Pekebun dan mendaftarkan mereka. Di samping mengacu pada peraturan yang telah ada, contoh dan pengalaman yang sudah ada dari berbagai daerah itu menjadi petikan pelajaran bagi pengembangan panduan ini dengan harapan semua daerah akan mendorong langkah yang lebih pro-aktif untuk mengkonsolidasikan data Pekebun secara sistematis menuju penerbitan Surat Tanda Daftar Usaha Perkebunan Untuk Budidaya (STD-B).

Dengan demikian, keberadaan panduan ini, diharapkan mendorong pemerintah daerah untuk sesuai kewenangannya secara aktif melakukan kegiatan pendaftaran dan proses penerbitan Surat Tanda Daftar Usaha Perkebunan Untuk Budidaya (STD-B).

Panduan ini menjadi rujukan nasional bagi semua Pemerintah Daerah dalam proses mengkonsolidasikan data Pekebun secara lengkap dan menerbitkan Surat Tanda Daftar Usaha Perkebunan Untuk Budidaya (STD- B) secara tepat agar terjadi konsistensi dan harmonisasi data dan informasi Pekebun di tingkat nasional maupun di daerah yang bersangkutan. Pendaftaran ini diperlukan agar berbagai kegiatan pemberdayaan maupun program lainnya yang dicanangkan Pemerintah Pusat untuk Pekebun bisa terkoordinasi dengan Pemerintah Daerah secara baik sesuai dengan kondisi faktual Pekebun.

Pengertian Surat Tanda Daftar Usaha Perkebunan Untuk Budidaya (STD-B) sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 98/Permentan/OT. 140/9/2013 adalah keterangan budidaya yang diberikan kepada Pekebun. Pada formulir Surat Tanda Daftar Usaha Perkebunan Untuk Budidaya (STD-B) memuat berbagai keterangan yaitu keterangan pemilik mencakup nama, tempat/tanggal lahir, nomor KTP dan alamat, data kebun yang mencakup lokasi/titik koordinat kebun (desa/kecamatan), status kepemilikan lahan (sertifikat hak milik/girik/SKT/sewa), nomor surat kepemilikan, luas areal, jenis tanaman, produksi per hektar/thn, asal benih, jumlah pohon, pola tanam (monokultur/campuran dengan tanaman), jenis pupuk, mitra pengolahan, jenis tanah (mineral/gambut/mineral + gambut), tahun tanam dan usaha lain di lahan kebun.

B. Maksud dan Tujuan Keputusan Direktur Jenderal ini dimaksudkan sebagai dasar hukum dalam pemberian pelayanan pendaftaran dan penerbitan Surat Tanda Daftar Usaha Perkebunan Untuk Budidaya (STD-B) bagi Pekebun, dengan tujuan untuk: a. menghimpun data kepemilikan kebun rakyat dan informasi pendukung lainnya sehingga dapat digunakan sebagai basis pengambilan kebijakan; b. membantu Kementerian Pertanian dalam penyaluran program pemerintah, seperti: program subsidi pupuk, benih, peremajaan supaya tepat sasaran; c. mewujudkan tata kelola usaha budidaya tanaman perkebunan berkelanjutan milik Pekebun; d. membantu Kelembagaan Petani dan/Kelembagan Desa untuk peningkatan produktivitas dan kesejahteraan Pekebun; e. mendorong terwujudnya praktek pengelolaan perkebunan yang baik (good agriculture practices) di level Pekebun; f. memastikan pengelolaan SDA yang berbasis perkebunan dikelola secara berlanjutan.

C. Ruang Lingkup Keputusan Direktur Jenderal ini meliputi: a. tata cara penerbitan STD-B; b. pendanaan; c. insentif; d. pelaporan kemajuan; e. peralihan hak usaha budidaya tanaman perkebunan dan perubahan jenis komoditi perkebunan; f. pengelolaan informasi dan data.

D. Pengertian Dalam Keputusan Direktur Jenderal ini yang dimaksud dengan:

a. Perkebunan adalah segala kegiatan pengelolaan sumber daya alam, sumber daya manusia, sarana produksi, alat dan mesin, budi daya, panen, pengolahan, dan pemasaran terkait Tanaman Perkebunan.

b. Tanaman Perkebunan adalah tanaman semusim atau tanaman tahunan yang jenis dan tujuan pengelolaannya ditetapkan untuk usaha Perkebunan.

c. Usaha Perkebunan adalah usaha yang menghasilkan barang dan/atau jasa perkebunan.

d. Usaha Budidaya Tanaman Perkebunan adalah serangkaian kegiatan pengusahaan tanaman perkebunan yang meliputi kegiatan pra-tanam, penanaman, pemeliharaan tanaman, pemanenan dan sortasi termasuk perubahan jenis tanaman, dan diversifikasi tanaman.

e. Tanaman Perkebunan adalah tanaman semusim atau tanaman tahunan yang jenis dan tujuan pengelolaannya ditetapkan untuk usaha Perkebunan.

f. Lahan Perkebunan adalah bidang Tanah yang digunakan untuk Usaha Perkebunan.

g. Pekebun adalah orang perseorangan warga negara Indonesia yang melakukan Usaha Perkebunan dengan skala usaha tidak mencapai skala tertentu. h. Surat Tanda Daftar Usaha Perkebunan untuk Budidaya yang selanjutnya disingkat STD-B adalah keterangan budidaya yang diberikan kepada pekebun.

Prinsip pelaksanaan pendaftaran dan penerbitan STD-B yaitu: a. berkeadilan; b. perlindungan dan pemberdayaan; c. dilaksanakan secara mudah dan cepat; d. transparansi dan akuntabilitas;dan e. berkelanjutan.

Tata cara penerbitan STD-B yaitu: a. sosialisasi dan persiapan; b. pendataan; c. verifikasi; d. pemeriksaan lapangan dan pemetaan; dan e. penerbitan STD-B;

1. Sosialisasi dan Persiapan. Sosialisasi dan persiapan pendataan dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan bersama dengan dinas yang melaksanakan urusan di bidang perkebunan kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Pelaksanaannya berbentuk workshop, dimana Direktorat Jenderal Perkebunan akan menjelaskan pedoman penerbitan STD-B, alur proses pelaksanaan dan mekanisme pendatan lengkap dengan menjelaskan cara pengisian form pendataan kebun rakyat.

Dalam sosialisasi tersebut ditegaskan bahwa kegiatan pendataan, pendaftaran, dan penerbitan STD-B bukan merupakan kegiatan pemberian izin usaha dan tidak dipungut biaya serta tugas pendaftaran merupakan kegiatan yang harus dilakukan pemerintah. Selain itu, sosialisasi juga perlu mengajak Perusahaan Perkebunan agar secara aktif terlibat membantu pemerintah daerah dalam mempercepat tersedianya data Pekebun yang menjadi bagian dalam mata rantai pasok Perusahaan Perkebunan yang bersangkutan. Selanjutnya, dinas yang melaksanakan urusan di bidang perkebunan melaksanakan persiapan pendataan di daerah masing-masing.

Hasil Pendataan Kebun sawit mandiri yang dilakukan oleh SIAR di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat

Dalam rangka mendukung proses pendataan, bupati/walikota dapat memimpin sosialisasi kepada petugas kabupaten/kota yang menangani perkebunan, Camat/Kepala Desa/Lurah, kepala dusun setempat, perwakilan Organisasi Tani atau Gabungan Organisasi Tani (GAPOKTAN) serta Perkebunan Besar Swasta (PBS) untuk menjelaskan maksud dan tujuan kegiatan pendataan dan pendaftaran.

Sejalan dengan proses sosialisasi maka langkah-langkah persiapan yang dilakukan bersamaan dengan atau segera setelah proses sosialisasi yaitu:

a. Peningkatan kapasitas Tim Pendataan STD-B Petugas dinas kabupaten/kota yang melaksanakan urusan di bidang perkebunan yang akan melaksanakan sosialisasi dibekali dengan berbagai pengetahuan tentang pemetaan, penggunaan alat bantu yang digunakan, teknis budidaya perkebunan dan pemahaman terhadap ketentuan mengenai peraturan perundang-undangan di bidang perkebunan, pertanahan dan kehutanan. Pembekalan tersebut dapat dilakukan oleh instansi terkait maupun kerja sama dengan pihak ketiga. Tahapan pembekalan akan diatur oleh dinas yang melaksanakan urusan di bidang perkebunan kabupaten/kota dengan mempertimbangkan kebutuhan prioritas dalam wilayah masing-masing.

b. Pembentukan Tim Pendataan Bupati/walikota membentuk Tim Pendataan yang menjadi dasar untuk menyelenggarakan kegiatan pendataan. Koordinator Tim Pendataan yaitu kepala dinas yang melaksanakan urusan di bidang perkebunan kabupaten/kota beranggotakan kepala desa/lurah yang sekaligus menyelenggarakan proses pendataan secara teknis di lapangan. Selanjutnya Tim Pendataan membuat rencana kerja pendataan sesuai target yang diminta dan waktu beserta tahapannya. Dalam merancang rencana kerja tersebut, Tim Pendataan wajib mempertimbangkan masukan dari pemerintahan desa.

2. Pendataan Pendataan dilaksanakan oleh pemerintah desa dengan membentuk tim pendataan di tingkat desa, yang terdiri dari: perangkat desa dan tokoh masyarakat. Kepala dinas yang melaksanakan urusan di bidang perkebunan kabupaten/kota menjadi supervisor bagi tim pendataan di tingkat desa.

Pendataan menggunakan pendekatan sensus yang mendata semua Pekebun rakyat tanpa membedakan lokasi dan status kebun dengan menggunakan form pendataan sebagaimana dimaksud dalam format 1. Form pendataan diisi dengan kode kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam format 2.

Langkah teknis pendataan bisa dilakukan melalui dua cara: (1) perangkat desa mengumpulkan semua Pekebun di satu tempat, kemudian kepada masing-masing Pekebun dibagikan form pendataan untuk untuk diisi dengan dipandu oleh tim pendataan, atau (2) tim pendataan mengunjungi tempat tinggal Pekebun mewawancarainya langsung sesuai dengan form pendataan.

Data-data yang sudah dikumpulkan oleh tim pendataan di tingkat desa dijadikan buku database kepemilikan usaha perkebunan pada wilayah administrasi desa yang bersangkutan. Database tersebut menjadi pegangan bagi pemerintah desa untuk menyusun RTRW Desa dan program pembangunan desa.

Semua form pendataan yang sudah selesai diisi oleh tim pendataan diserahkan kepada petugas (supervisor) di dinas yang melaksanakan urusan di bidang perkebunan kabupaten/kota. Dinas yang melaksanakan urusan di bidang perkebunan kabupaten/kota sudah menyiapkan sistem informasi database Pekebun rakyat dan STD-B. Isian yang ada di dalam form pendataan dimasukan ke dalam sistem tersebut. Sistem ini langsung terkoneksi dengan database pusat yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Perkebunan.

3. Verifikasi

Data hasil survei yang telah diintegrasikan ke dalam database di masing- masing kabupaten/kota diverifikasi untuk menentukan lokasi kebun berada di dalam kawasan hutan, kawasan lindung, atau di luar kawasan- kawasan tersebut.

Dalam rangka mendukung proses verifikasi maka bupati/walikota membentuk Tim Verifikasi Data lintas sektoral yang terdiri dari: a. dinas yang melaksanakan urusan di bidang perkebunan kabupaten/kota, sekaligus sebagai koordinator Tim; b. balai pemantapan kawasan hutan; c. dinas yang melaksanakan urusan di bidang penataan ruang; d. badan perencanaan pembangunan daerah; e. kantor pertanahan; f. camat; g. kepala desa; h. organisasi masyarakat sipil.

Tim verifikasi bertugas: a. memvalidasi data dan informasi lahan Pekebun berada pada lokasi yang sesuai dengan peruntukan usaha perkebunan dan tidak tumpang tindih dengan penggunaan lainnya; b. melakukan pemeriksaan lapangan dan pemetaan; c. melaporkan hasil verifikasi kepada bupati/walikota melalui kepala dinas yang melaksanakan urusan di bidang perkebunan untuk diproses penerbitan STD-B.

Verifikasi dilakukan dengan membuat overlay antara peta daerah administrasi desa dengan peta kawasan hutan yang bersumber dari kementerian yang menyelenggarakan urusan kehutanan, kementerian yang menyelenggarakan urusan pertanahan dan peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kabupaten/kota. \

Melalui proses verfikasi juga dilakukan klasifikasi Pekebun rakyat yang terdiri dari: klasifikasi berdasarkan luas area yang diusahakan (0-4 hektare, 4-10 hektare dan 10-25 hektare), klasifikasi berdasarkan status kepemilikan lahan (diusahakan sendiri atau diusahakan oleh orang lain), klasifikasi berdasarkan jenis tanah (gambut, mineral dan campuran).

Pekebun yang status kepemilikan dan lokasi lahannya sudah clean and clear (CnC) akan dijadikan target prioritas penerbitan STD-B.

4. Pemeriksaan lapangan dan pemetaan

Data-data kebun rakyat yang sudah diverifikasi selanjutnya dilakukan pemetaan oleh tim verifikasi lintas sektoral. Pada tahap ini, tim verifikasi ditambahkan dengan perwakilan dari perangkat kecamatan dan perangkat desa, sesuai lokasi yang akan dipetakan. Pemetaan dilakukan sesuai dengan standar pemetaan BPN dan Badan Informasi Geospasial (BIG). Skala peta adalah 1: 2.000 dengan membent.uk polygon.

Jika proses pemetaan melibatkan atau diinisiasi oleh pihak ketiga maka pelaksanaannya harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: (1) pihak ketiga memuat perencanaan dengan pihak kabupaten/kota terkait lokasi dan metode pemetaan (standar BPN dan BIG), dan (2) berkoordinasi dan bekerjasama dengan pihak kabupaten/kota melalui dinas yang melaksanakan urusan di bidang perkebunan.

5. Penerbitan STD-B

Data dan peta yang sudah dihasilkan, selanjutnya diproses untuk penerbitan STD-B sebagaimana dimaksud dalam format 3. Data-data yang diperlukan untuk penerbitan STD-B diambil dari database yang telah tersedia, termasuk peta yang dilampirkan sebagai persyaratan dalam pendaftaran.

Setelah semua data yang diminta dalam formulir STD-B diisi dan dilampirkan peta, Bupati/Walikota menerbitkan STD-B, selambat- lambatnya 5 hari sejak semua formulir dinyatakan lengkap. Dalam hal penandatanganan STD-B, Bupati/Walikota dapat mendelegasikan kepada kepala dinas yang melaksanakan urusan di bidang perkebunan di kabupaten/kota yang bersangkutan.

Kabupaten/Kota dianjurkan untuk membuat STD-B elektronik (e-STDB) untuk memudahkan pemutakhiran data dan mengantisipasi hal-hal yang mungkin terjadi, seperti hilang atau rusak, pada STD-B yang sudah diserahkan ke Pemerintah Desa dan Pekebun.

Dinas yang melaksanakan urusan di bidang perkebunan menyerahkan STD-B yang sudah diterbitkan kepada pemerintah desa, selambat- lambatnya 5 hari sejak STD-B tersebut diterbitkan. Dinas yang melaksanakan urusan di bidang perkebunan menyimpan arsip STD-B dalam bentuk catatan elektronik.

Salinan asli STD-B diserahkan Pemerintah Desa kepada Pekebun selambat- lambatnya 3 (tiga) hari sejak STD-B diterima dari Dinas terkait. Pemerintah desa menjadikan salinan STD-B sebagai dokumen arsip kepemilikan usaha budidaya tanaman perkebunan di daerah administrasinya.

STDB berakhir dalam hal ini adalah

1. perubahan kepemilikan;

2. perubahan jenis tanaman;

 3. perubahan luas;

4. tanahnya musnah;dan/atau

5. tidak diusahakan sesuai peruntukannya

Pendanaan proses penerbitan STD-B dapat bersumber dari:

1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN);

2. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD);

3. Badan layanan umum yang mengelola dana perkebunan; atau

4. Sumber lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pendataan dan pendaftaran Pekebun merupakan pelaksanaan kewajiban Pemerintah Daerah. Pekebun berhak mendapatkan layanan pendataan dan pendaftaran STD-B tanpa dikenakan biaya apapun. Insentif kepada Pekebun disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan. Pekebun yang telah mendapatkan STD-B diberikan prioritas dalam mendapatkan program bantuan pemerintah

Pelaporan kemajuan pelaksanaan STD-B oleh bupati/walikota disampaikan ke gubernur dan Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian serta Badan Informasi Geospasial (BIG). Laporan disampaikan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali berupa dokumen kemajuan pelaksanaan STD-B dan permasalahannya.

Informasi dan data yang dihimpun oleh Tim Pendataan, inisiatif Pekebun, dan pihak independen disimpan dalam sistem informasi perkebunan. STD-B serta informasi dan data pendukung disimpan dalam sistem informasi perkebunan. Semua informasi dan data wajib dipublikasikan berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Pelatihan WTA Bersama Papua Forest Watch


SIAR.OR.ID, Sorong – Pemanfaatan Wahana Tanpa Awak (WTA) merupakan suatu teknologi yang dapat membantu berbagai pekerjaan. Di antaranya adalah pemetaan dan pemantauan kawasan yang sulit dijangkau. Berbagai metode terus dikembangkan untuk mendapatkan hasil pemetaan dan pemantaun yang maksimal. Belum lama ini SIAR, AURIGA didukung oleh KEHATI memfasilitasi pelatihan pemanfaatan Wahana Tanpa Awak (WTA) serta pemantauan kawasan hutan yang diduga ada aktivitas perambahan.

Pelatihan dan pemantauan terlaksana di Sorong, Papua Barat. Dalam pelatihan tersebut yang dilakukan adalah membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mahir dalam pengoperasian pemanfaatan Wahana Tanpa Awak baik dibidang pemetaan, pemantauan dan  dokumentasi.

Pengenalan Komponen Wahana Tanpa Awak
Foto: Robbyeebor

Setidaknya dari pelatihan yang dilakukan tersebut akan terbentuk tim yang terdiri dari tiga orang untuk pengoperasian WTA. Papua Forest Watch (PFW)  adalah suatu lembaga yang konsen di bidang kehutanan, maka SIAR dan AURIGA serta Papua Forest Watch menyiapkan orang-orang yang akan dilatih untuk pengoperasian WTA tersebut.

Gunawan selaku staff Papua Forest Watch mengatakan, pemahaman terkait pemanfaatan WTA harus benar-benar digali karena ini sangat membantu pekerjaan dilapangan.

“Apalagi pekerjaan Papua Forest Watch dibidang kehutanan sudah barang pasti teknologi berupa Wahana Tanpa Awak (WTA) ini sangat membantu. Kami juga menyambut baik pelatihan ini, maka porsonil benar-benar akan kami siapkan supaya bisa menjadi tim yang siap kerja di lapangan setelah pelatihan ini,” kata Gunawan di sela-sela pelatihan.

Peserta pelatihan diberikan pemahaman terkait WTA. Mulai dari regulasi yang berlaku di Indonesia sesuai Undang-Undang, manajeman penggunaan yang baik dan benar, sistem serta anatomi WTA sehingga benar-benar bisa difungsikan dengan baik. Setelah memahami itu semua, peserta diajak dan dipandu menerbangkan pasawat jenis Cesna untuk mengasah kemampuan menerbangkan WTA. Setalah menguasai kemampuan terbang, baru peserta dipandu membuat rencana penerbangan di aplikasi Mission Planner kemudian pilot menerbangkan pesawat jenis Skywalker yang biasa digunakan untuk melakukan pemetaan dan pemantauan.

SIAR Petakan Kebun Sawit Masyarakat Bersama SPKS Paser

SIAR.OR.ID, Kalimantan Timur – SIAR kembali melakukan pemetaan menggunakan Wahana Tanpa Awak (WTA) di Kalimantan Timur tepatnya di desa Long Ikis, Kecamatan Long Ikis, Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur. Kali ini  yang dipetakan SIAR adalah kebun petani kelapa sawit mandiri yang ada di 5 desa.  Pemetaan ini terlaksana dikarenakan Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) ingin mendata kebun petani mandiri yang ada di Kecamatan Long Ikis terutama di 5 desa, terkait produktivitas hasil perkebunan kelapa sawit masyarakat.

Menurut Syaiful Anwar staff lapangan SPKS Paser, hingga saat ini terkait peta sebaran kelapa sawit masyarakat belum ada. Maka dari itu data areal pekebun sawit mandiri sangat kita butuhkan.

“Sebab data dan peta areal kebun ini menjadi salah satu syarat apabila ingin bermitra dengan perusahan. Maka dari itu kita SPKS Paser sangat menbutuhkan data tersebut agar bisa mendorong perusahaan mau bermitra dengan petani. Selama ini petani menjual buah sawit mereka lewat tengkulak-tengkulak dengan harga dibawah standar yang ditetapkan Disbun,” kata Syaiful.

Akuisisi data perkebunan Kepala Sawit Masyarakat Menggunakan Wahana Tanpa Awak (WTA) Bersama SPKS Paser. Foto: Fathul Birri

Total luasan areal yang dipetakan dari 5 desa itu kurang lebih 4000 hektar. Selain untuk mendorong kebijakan supaya perusahaan mau bermitra dengan mansyarakat banyak hal lain yang dapat dilakukan apabila peta areal kebun masyarakat sudah ada. “ salah satu diantaranya kita dapat mendorong Disbun untuk melakukan pen STD-B kebun-kebun petani yang ada di Kecamatan Long Ikis ini,” kata Syaiful.  

Estimasi pemetaan kebun sawit masyarakat di lima desa satu kecamatan kurang lebih 7 hari dengan hambatan cuaca mendung dan kondisi lain yang menghambat pekerjaan dilapangan.

Pelatihan Sekaligus Pemantauan, Perkuat SDM dalam Pengoperasian WTA


 SIAR.OR.ID, Sorong –  Lelaki itu beperawakan tegap, kekar tidak memakai baju dan bambu berukuran 5 meter di tangannya. Sesekali bambu itu diarahkannya ke atas. Kepala lelaki tersebut terlihat  menengadah memastikan buah pinang yang ingin diambilnya jatuh dari pohon. Kedatangan kami membuyarkan perhatiannya terhadap buah pinang yang mau diambilnya. “ Kakak silahkan masuk, kak Irma ada di dalam,” kata lelaki itu seolah tahu kami ingin bertemu dengan siapa.

Kedatangan kami ke Kantor Papua Forest Watch untuk mamastikan pelatihan yang akan dilaksanakan. Terkait peserta, komsumsi dan tempat. Setelah mendapatkan kepastian terkait pelatihan yang akan dilakukan, Erlangga Rezki Ananta meyampaikan agenda pelatihan dan output yang ingin dicapai pada pelatihan tersbut. “Selain mengadakan pelatihan, untuk  memantapkan hasil pelatihan, harapan kita akan ada satu tim Wahana Tanpa Awak (WTA) yang benar-benar jadi, maka maksud kami dalam pelatihan ini prakteknya akan dilakukan pemantauan terhadap kawasan hutan yang ada aktivitas perambahannya,” kata Erlangga Rezki Ananta .

Proses memperkenalkan bidang kemudi yang ada di pesawat latih jenis Cesna.
Foto: Robbyeebor

Irma menyambut baik kegiatan pelatihan serta hasil pemantauan sebagai hasil dari pelatihan tersebut. Papua Forest Watch akan menyiapkan personil yang akan dibentuk menjadi satu tim untuk pengoperasian Wahana Tanpa Awak (WTA) tersebut. Di sela-sela pembicaraan agenda pelatihan yang akan dilakukan Irma masuk ke ruang kerja, begitu keluar selembar kertas berada di tangannya. Kertas tersebut adalah sebuah peta, peta tersebut adalah sebuah peta hutan adat yang menurut informasinya sudah ada aktivitas perambahan. “Tinggal kita tentukan wilayah mana yang akan menjadi target pamantauan nanti,” kata Irma.

Pelatihan dan Penganalan Wahana Tanpa Awak (WTA)

Satu persatu peserta memasuki ruang pelatihan, salah satunya Hermanus pria berperawakan besar tinggi ini begitu ramah. Sebelumnya Hermanus pernah pengikuti pelatihan pemanfaatan WTA di Pontianak. Demi mengasah keterampilannya dalam mengoperasikan WTA Hermanus kembali mengikuti pelatihan yang dilakukan di Sorong, Papua Barat.

Hermanus mengaku banyak sekali ilmu yang didapat ketika mengikuti pelatihan di Pontianak. Mendengar AURIGA dan SIAR akan membentuk sumber daya manusia yang benar-benar bisa mengoperasikan WTA di bidang pemetaan dan pemantauan dan tim tersebut harus menjadi tim yang siap ketika melakukan monitoring maka kesempatan ini pun tak dilewatkan Hermanus.

Agenda pelatihan di hari pertama berjalan lancar, materi yang diberikan kepada peserta pelatihan adalah pengenalan dan pemanfaatan WTA di bidang kerja tertentu. Serta jenis-jenis WTA atau drone. Setelah memahami dan mengetahui jenis-jenis drone materi selanjutnya yang disampaikan kepada peserta adalah manajeman pengoperasian drone serta regulasi yang berlaku di Indonesia. Materi ini diberikan agar peserta memahami tahapan-tahapan yang dilakukan ketika ingin mengoperasikan drone atau wahana tanpa awak.


Pengenalan Wahana Tanpa Awak (WTA) yang dilakukan Intrukstur Pelatihan.
Foto Robbyeebor

Materi terkait drone atau wahana tanpa awak disampaikan dua hari. Setelah penyampaian materi tersebut agenda selanjutnya adalah praktek menerbangkan drone di lapangan terbuka. Drone atau WTA yang akan diterbangkan ada dua jenis pertama multirotor kedua fixed wing. Kedua jenis drone ini harus bisa dioperasikan oleh peserta. Proses penerbangan berjalan lancar, peserta satu persatu bergiliran untuk menerbangkan drone jenis fixed wing yang SIAR rakit sendiri. Setelah proses praktek penerbangan dan peserta tahu orientasi barulah salah satu peserta mengoperasikan fixed wing jenis Sky Walker yang bisa digunakan untuk melakukan pemetaan.

Tes terbang pun dilakukan dengan merencakana jalur terbang. “Sebelum terbang langkah awal yang kita lakukan adalah membuat jalur terbang di massion planner,” kata Fajar selaku staf lapangan AURIGA.

Fajar memandu peserta yang telah dibagi menjadi 3 kelompok. Dari tiga kelompok besar tersebut terdiri dari 3 orang. Ada pilot yang menerbangkan drone, Ground Control System (GCS) yang bertugas membuat jalur terbang dan memantau pergeralan pesawat ketika auto dan teknisi yang memastikan pesawat benar-benar baik dan siap untuk diterbangkan.

Setelah mendemokan pembuatan jalur terbang, Fajar meminta GCS yang telah ditunjung oleh kelompoknya untuk membuat jalur terbang sendiri. “Silahkan buat jalur terbang yang kalian inginkan, usahakan sebelum membuat jalur terbang kalian saling koordinasi,” kata Fajar.

Fajar Selaku Instruktur Pelatihan menjelaskan cara pembuatan jalur terbang WTA
Foto: Fathul Birri

Kelompok pertama merencanakan rute penerbangan WTA. Setelah rencana terbang dibuat, teknisi memastikan komponen dan body pesawat aman dan siap diterbangkan, kemudian pilot mengecek setiap bidang kemudi yang ada di pesawat. Dan pasawat siap diterbangkan. Setiap kelompok mendapat giliran untuk membuat rencana penerbangan dan mengoperasikan drone atau WTA.

Persiapan Pratik menerbangkan Pesawat latih yang dipandu langsung oleh Instruktur
Foto: Robbyeebor

Praktik dan Proses Monitoring Kawasan Hutan yang Dilakukan

Seusai pratek penerbangan di sekitaran Kota Sorong untuk melakukan monitoring kawasan hutan tim harus bergeser ke Maladofok. Perjalanan menuju lokasi memakan waktu kurang lebih 3 jam dari kota Sorong. Ada 3 tim yang berangkat dengan dua kendaraan. Medan yang ditempuh lumayan ekstrim dengan kondisi jalan beton dan banyak tikungan. Kawasan hutan yang menjadi target pemantaun kali ini adalah sekitar Hak Guna Usaha (HGU) PT. HIP.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang akhirnya kami sampai di lokasi pemantauan. Target selanjutnya adalah mencari home penerbangan yang aman serta jauh dari keramaian. Akirnya home yang dicari pun kami dapati, tim monitoring yang sebelumnya sudah dilatih langsung mempersiapkan unit. Ground Control System (GCS) yang ditangani oleh Mariao langsung membuat rencana penerbangan, sedangkan teknisi diambil alih oleh Roni langsung  meyiapkan tiang antena dan merakit drone, pilot diambil alih oleh Hermanus  menyiapkan transmiternya.

Mempersiapakan WTA untuk diterbangkan.
Foto : Ikmal

Persiapan usai, ketiga orang ini mengambil posisi masing-masing. Pilot dan teknisi mengecek bidang kemudi yang ada di drone sedangkan teknisi mengecek kondisi body drone dan komponen-komponen lainnya. “Semua aman dan siap terbang bang,” kata Roni memberi infromasi ke Mario selaku GCS. Mendengar aba-aba tersebut Mario mengoneksikan WTA dengan lantopnya yang ada di depan. Rencana penerbangan pun dikirim ke pasawat kembali Hermanus mengecek bidang kemudi pesawat untuk memastikan apakah setiap bidang kontrol pesawat dan beroperasi dengan baik. “Semua kontrol pada pasawat berfungsi dengan baik, pasawat siap untuk take off,” teriak Hermanus. Roni pun mengambil ancang ancang untuk melontarkan pasawat, Hermanus menaikan tuas trotel pada transmiter motor yang ada di pesawat berbunyi dan baling-baling berputar dengan kencang. “Lontar kakak Roni,” kata Hermanus memberikan aba-aba ke Roni. Dengan sigap Roni melontar pasawat, kini kendali pasawat ada di Hermanus Penuh selaku pilot. Dari kejauhan suara Mario terdengar. “Ketinggian 50, ketinggian 70 ketinggian 80 ketinggian 100,” ucap Mario sedikit berteriak memberikan informasi kepada rekannya Hermanus. Tak selang berapa lama Hermanus menanyakan arah mana yang dituju pesawat. “Mario kemana jalur awal terbang pasawat,” tanya Hermanus. “Ok kakak bawa ke kiri terus dalam hitungan mundur siap-siap kakak autokan. Tiga, dua , satu autokan kakak,” perintah Mario kepada Hermanus. Dari kejauhan suara Hermanus terdengar. “Mode,” tanya Hermanus. “Auto sudah kakak,” Balas Mario.

Pendampingan Monitoring yang diberikan kepada peserta pelatihan
Foto: Robbyebbor

Beberapa saat Hermanus memantau pergerakan pesawat ketika auto. “Pesawat stabil, baik Mario transmiter aku matikan,” Hermanus mengkonfirmasi ke Mario bahwa transmiter dimatikannya. Mario pun memberikan informasi  kepada Hermanus bahwa transmiter sudah tidak berfungi lagi. Kini pesawat tersebut bekerja secara otomatis sesuai jalur terbang yang sudah direncanakan. Mario dengan serius melihat di layar monitor pergerakan dan tingkah laku pesawat di udara. Jalur terbang yang direncakan Mario memakan waktu 1 jam dengan luasan area yang tercover 1000 ha.

Petakan Sawit Masyarakat dan Kenalkan WTA Kepada KUD

SIAR.OR.ID Ketapang  –  Pendataan dan pemetaan sawit masyarakat di Kabupaten Ketapang Kecamatan Air Upas dan Manis Mata masuk dalam tahap pendataan kepemilikan lahan. Pengambilan foto udara menggunakan fixed wing sudah dilakukan dengan hasil gambar resulusi tinggi. Dalam kegiatan pengambilan foto udara beberapa waktu lalu SIAR Nusantara menggandeng beberapa Koperasi Unit Desa (KUD) yang ada di kecamatan Air Upas dan Manis Mata.

Ketua Koperasi Unit Desa Yusuf Efendi menyambut baik kegiatan pemetaan dan pendataan yang dilakukan.Dia mengatakan, kegiatan ini sangat membantu masyarakat terkait wilayah kelola perkebunan sawit yang di kelola oleh Koperasi Unit Desa.

“ Kami menyambut baik kegiatan ini, apalagi kegiatan ini terkait perkebunan sawit masyarakat. Banyak sekali manfaat yang masyarakat dapatkan apabila kebunnya sudah ada peta, setidaknya masyarakat lebih merasa memiliki lahan, selain ada sertifikat, peta juga dapat memperkuat kepemilikan lahan kelolanya,” kata Yusuf.

Proses pemetaan dan pendataan menggunakan drone, selain untuk memenuhi syarat untuk pengajuan Surat Tanda Daftar Budidaya agenda lainnya adalah mengenalkan kepada masyarakat tentang teknologi dan pengetahuan dalam bidang pemetaan menggunakan drone yang dapat mengifesiensikan waktu dan biaya. Sehingga masyarakat yang ada di Kecamatan Air Upas dan Manis Mata lebih kenal dan bisa mengetahui teknologi dan perkembangan dalam bidang pemetaan wilayah.

Setidaknya ada 11 Koperasi Unit Desa (KUD) yang berada di Kecamatan Air Upas dan Manis Mata yang SIAR gandeng dalam kegiatan pemetaan dan pendataan kebun sawit masyarakat. Kedepannya data hasil pemetaan kebun mandiri masyarakat ini akan diserahkan ke pemilik lahan dan dinas perkebunan Kabupaten Ketapang. Hal ini lakakukan sebagai serpon keputusan Direktur Jendral Perkebunan No : 105/Kpts/PI 400/2/2018 Tentang Pedoman Penertiban Surat Tanda Daftar Usahan Perkebunan untuk Budidaya (STD-B) yang telah diatur oleh Kementrian Pertanian Republik Indonesia.

 

Peringatan Hari Hutan Sedunia, Apa Kabar Hutan Indonesia?

SIAR.OR.ID  Pontianak  –  Peringatan  Internasional Day of Forest merupakan salah satu bentuk komitmen dunia untuk menjaga hutan dan melindunginya dengan lestari. Bagi manusia, hutan memberikan peranan penting. Baik berupa ekonomi, budaya, pendidikan bahkan hal mistis sekalipun. Bagi masyarakat yang hidupnya bergantung dengan hutan sudah barang pasti segala kebutuhan tersedia di hutan. Air bersih, hewan serta tumbuhan lainnya yang tersedia dimanfaatkan masyarakat untuk melangsungkan hidupnya.

Hadirnya pemerintah dengan segala bentuk peraturan yang dibuat diharapkan dapat mengendalikan serta melestarikan fungsi hutan agar tidak dikuras secara brutal. Bukan sebaliknya, mengubah fungsi hutan menjadi perkebunan skala besar. Diperingata Internasional Day of Forest yang ke tujuh pada 21 Marat 2019 membuka mata sejauh mana pemerintah mempertahankan kawasan hutan yang ada agar tidak dibebani izin untuk perkebunan dan pertambangan. Serta, seberapa konsisten pemerintah Indonesia memberikan sumbangsi mengurangi perubahan iklim yang sudah terjadi.

Dengan jumlah tutupan hutan yang besar, tentu Indonesia mempunyai peran yang besar. Namun akhir-akhir ini hutan Indonesia menyusut drastis disebabkan terjadinya alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit skala besar. Data Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2015 menunjukan luas kawasan hutan Indoensia seluas 128 juta hektar. Dengan rincian, hutan konservasi seluas 27,4 juta hektar, hutan lindung seluas 29,7 juta hektar, hutan produksi terbatas 26,8 hektar, hutan produksi 29,3 juta hektar dan hutan yang bisa dikonversi seluas 12,9 juta hektar.

Selang dua tahun pada 2017 luas kawasan hutan Indonesia menyusut menjadi 125,9 juta hektar. kalau dirata-ratakan setiap tahunnya kawasan hutan Indonesia mengalami deforstasi sekitar 1 juta hektar. penyebabnya tak lain dikarenakan masifnya pembukaan kawasan hutan menjadi perkebunan dan pertambangan dengan alasan untuk mendongkrak perekomonian nasional dibidang perkebunan tanpa pikir panjang dampak dan konflik antara masyarakat yang terjadi.

Mudah-mudahan di momentum peringatan hari hutan sedunia ini tidak hanya menjadi ucapan serimonial. Peringatan hari hutan sedunia ini semoga menyadarkan kita akan pentingnya hutan bagi kehidupan semua makhluk dan senantiasa menjaga, melestarikan serta menafaatakan hutan sesuai dengan kebutuan tanpa harus merusknya.