Gara-Gara Chating, Heru pun Tertipu
Tidak salah apabila ada sebagian orang yang menganggap chating di Internet adakalanya membawa dampak negatif. Anggapan tersebut setidaknya terbuktikan di RW. 12 Kel. Sadangserang.
Kurang lebih seminggu yang lalu persoalan ini terkuak ke permukaan dan menjadi bahan pembicaraan yang menghebohkan di RW. 12 Kel. Sadangserang. Dari beberapa sumber yang dapat dipercaya, kru Rakita berusaha mencari informasi, dan beginilah ceritanya.
Sebut saja Ibu Tuti (bukan nama sebenarnya) yang mempunyai anak perempuan baru gede yang telah kenal dengan dunia internet khususnya chatting. Anak ibu Tuti tersebut memang sering meminta uang buat ke warnet untuk chatting, biasanya anak tersebut menggunakan nickname “Ade Ayu”. Dalam petualangannya sebagai ade ayu, anak tersebut kenalah dengan seorang lelaki yang mengaku sudah kuliah dan tinggal di daerah Antapani Bandung sebut dia Heru (bukan nama sebenarnya). Setelah beberapa chatting, akhirnya antara Ade Ayu dengan Heru terjadilah pertukaran nomor handphone.
Entah bagaimana ceritanya ternyata antara Ade Ayu dengan sang Ibu (Ibu Tuti), kelihatannya telah terjadi kesepakatan. Kesepakatan dimaksud adalah, bila terjadi komunikasi dengan Heru di Internet, Ade Ayu yang melakukan dan apabila komunikasi melalui sms di HP, ibunya lah yang menjawab. Lanjut cerita, karena kondisi ekonomi ibu Tuti kurang baik, sehingga Ade Ayu pun jarang bermain ke warnet lagi, namun demikian komunikasi melalui sms dengan Heru terus dilakukan oleh Ibu Tuti yang selanjutnya mengaku sebagai Ade Ayu. Jadi pada saat menjawab sms Heru, Ibu Tuti bertindak sebagai Ade Ayu, namun apabila Heru menelpon, Ibu Tuti mengaku sebagai pembantu Ade Ayu, termasuk pada saat Heru datang ke rumah ibu Tuti dengan niatan ingin ketemu dengan Ade Ayu.
Terdapat cerita lucu pada episode berikutnya, entah bagaimana Ibu Tuti merayu Heru di SMS sampai-sampai Heru bersemangat untuk melakukan tunangan dengan Ade Ayu dan menitipkan uang untuk membeli cincin tunangan kepada ibu Tuti, padahal melihat Ade Ayu saja belum. Selain itu Heru juga mengirimkan komputer ke rumah Ade Ayu sebagai tambahan.
Dalam investigasi yang dilakukan kru Rakita, cincin yang dibeli justru dimasukan ke Pegadaian oleh ibu Tuti.
Setelah sekian kali Heru datang ke rumah Ade Ayu dan selalu dia ketemu ibu Tuti yang mengaku sebagai pembantunya, Ibu Tuti selalu bilang kalo Ade Ayu sedang tidak ada di rumah. Namun untuk menutupi kebohongannya ibu Tuti malah meminta seorang anak baru gede lainnya (bukan anaknya, tetapi anak tetangga untuk mengaku sebagai Ade Ayu). Suatu ketika anak tetangga tersebut diajaki ngobrol oleh Heru tetapi tidak nyambung dan salah ngomong dengan mengaku nama aslinya.
Heru merasa tidak percaya dengan keadaan tersebut, dan mulai curiga sehingga dia melaporkan kejadian ini ke aparat setempat RT dan RW. Akhirnya persoalan pun diselesaikan oleh Ketua RT dan Ketua RW setempat, untungnya Heru masih mau berbaik hati tidak melaporkan Ibu Tuti ke polisi.
Sampai permasalahannya bisa diselesaikan, kelihatannya Heru masih juga belum tau yang mana sebenarnya Ade Ayu. Tetapi rasanya itu tidak penting, yang lebih penting adalah bagaimana pengalaman itu bisa menjadi guru terbaik bagi seorang Heru yang kemungkinan sedang mencari jodoh di Internet.
Rakita, untuk Siar
kontributor: [Radkom RAKITA]
SMS 08180-438-9000
siar pesan anda

