Tingkatkan Kapasitas Organisasi Perangkat Daerah dalam Pengoperasian Drone, GIZ Kaltim Gandeng SIAR

Dalam beberapa tahun terakhir, pemanfaatan Wahana Tanpa Awak (WTA) atau yang sering dikenal dengan nama Drone tidak lagi hanya didominasi untuk kepentingan pertahanan, komersil maupun sekedar hobi mengabadikan momen tertentu dari udara. Drone saat ini mulai dimanfaatkan untuk kepentingan perencanaan dan monitoring berbagai sektor seperti hutan, kebun, minerba, kelautan, tata ruang. Khususnya untuk survei dan pemetaan, drone menjadi salah satu alternatif karena mampu menghasilkan data yang aktual, cepat dan akurat.  

Untuk mengembangkan dan memperluas pengetahuan pengoprsian serta melakukan pemetaan dan monitoring kawasan berbantuan Wahana Tanpa Awak (WTA) Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit GmbH (GIZ) melaksanakan pelatihan Pemetaan dan Pemantauan Tutupan Lahan Menggunakan Teknologi Drone di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur yang berlangsung dari 19-23 Agustus 2019.

Proses pengenalan WTA jenis Fixed wing kepada peserta pelatihan
Foto: Eriz

Penyelenggara kegiatan ini adalah GIZ bekerjasama dengan Pemerintahan Kabupaten Berau dan dibantu oleh SIAR sebagai mitra pengembangan dan instuktur pelatihan.

Iwied Wahyulianto selaku tim GIZ Berau mengatakan, tujuan kegiatan ini adalah untuk mendukung Pemerintah Kabupaten Berau dengan meningkatkan kapasitas anggota Satgas Informasi Geospasial (GTIG) dan organisasi masyarakat sipil yang bertanggung jawab atas tugas-tugas terkait perubahan penggunaan lahan dan perencanaan pengembangan perkebunan untuk dapat menghasilkan peta tutupan lahan menggunakan teknologi drone.

“ GIZ bekerjasama dengan pemerintah Kabupaten Berau dalam kesempatan ini kita memanfaatkan drone untuk monitoring berubahan tutupan lahan, sehingga aparatur pemerintah terutama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dapat menantau perubahan tutupan lahan yang terjadi di Kabupaten Berau,” kata Iwied.

Peserta pelatihan mengoprasikan WTA jenis Fixed wing yang dipandu langsung oleh instruktur
Foto: Eriz

Hasil yang diharapkan dari pelatihan ini lanjut Iwied adalah memahami konsep pengumpulan data dengan menggunakan teknologi drone termasuk gambaran dasar tentang UAV / drone, merinci komponen peralatan, bimbingan teknis dan latihan pengumpulan data lapangan termasuk bagaimana merencanakan rute penerbangan, pilot otomatis, memproses data lapangan yang dikumpulkan untuk analisis lebih lanjut, bimbingan teknis dan latihan analisis data RAW untuk beberapa tujuan seperti penghitungan pohon, pemantauan area perkebunan, bidang tanah dan menampilkan dan menyusun peta untuk menghasilkan informasi suatu lahan.

Sementara itu, Direktur SIAR Nusantara Erlangga Rezky Ananta mengatakan, Pemetaan menggunakan WTA/Drone dapat menghasilkan hingga 5000 hektar dalam satu hari kerja, pada resolusi sangat tinggi 10cm/pixel. Sedangkan untuk kegiatan pemantauan WTA/Drone dapat diterbangkan untuk melakukan dokumentasi dan verifikasi wilayah dengan total perjalanan hingga 70km. WTA/Drone merupakakan salah satu alat yang dapat membantu mempermudah dan meningkatkan efektivitas kegiatan pemetaan dan pemantauan, baik dari segi waktu, biaya, dan tenaga yang dikeluarkan.

pengoprasain WTA jenis Fixed wing yang dilakukan oleh peserta pelatihan.
Foto: Eriz

“Dengan keunggulan tersebut, teknologi WTA/drone bisa dijadikan alternatif solusi untuk monitoring perubahan tutupan lahan. Tantangannya adalah masih terbatasnya sumberdaya manusia dalam penerapan teknologi ini dan sejauh mana masyarakat dapat terlibat,” kata Erlangga.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *